BERITA TERKINI
Saham CNMA: Kinerja hingga Kuartal III 2024 dan Arah Strategi Bisnis 2025

Saham CNMA: Kinerja hingga Kuartal III 2024 dan Arah Strategi Bisnis 2025

Saham PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk (CNMA), operator jaringan bioskop Cinema XXI, menjadi perhatian investor sejak melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2 Agustus 2023. Pencatatan saham ini berlangsung ketika minat masyarakat menonton film di layar lebar mulai pulih pasca-pandemi, sehingga memunculkan ekspektasi terhadap perbaikan kinerja industri bioskop.

CNMA mencatatkan IPO pada harga Rp270 per saham. Penawaran umum perdana tersebut disebut mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 25,7 kali. Dalam struktur kepemilikan, pemegang saham pengendali CNMA adalah PT Harkatjaya Bumipersada (53,99%). Saham lainnya dimiliki oleh Salween Investment Private Limited (22,50%), PT Adi Pratama Nusantara (13,45%), serta masyarakat (10%).

Perusahaan ini bermula dari PT Subentra Nusantara yang berdiri pada 1988. Melalui pembukaan Studio 21, perusahaan merintis konsep multipleks modern di Indonesia. Seiring waktu, bisnis berkembang tidak hanya pada operasional bioskop, tetapi juga penjualan makanan dan minuman (F&B), penyelenggaraan acara, serta periklanan.

Aktivitas operasional Cinema XXI ditopang oleh sejumlah lini pendapatan, antara lain penjualan tiket secara daring dan luring melalui m.tix dan TIX.ID, penjualan F&B melalui berbagai gerai dan kanal pemesanan online (m.food, Shopeefood, Grabfood, dan Gofood), pemasangan iklan di layar teater dan infrastruktur bioskop maupun situs web, perolehan convenience fee dari platform digital, serta penyelenggaraan kegiatan seperti pemanfaatan XXI Ballroom, arcade game, voucher, dan movie card.

Dari sisi kinerja keuangan, CNMA mencatat pendapatan kuartal I 2024 sebesar 1.303.402, kuartal II 2024 sebesar 1.653.122, dan kuartal III 2024 sebesar 1.317.464. Laba bersih pada periode yang sama tercatat 141.562 (Q1 2024), 247.625 (Q2 2024), dan 140.583 (Q3 2024). Total aset per kuartal I 2024 sebesar 7.544.695, turun menjadi 7.143.092 pada kuartal II 2024, dan 7.199.763 pada kuartal III 2024. Total liabilitas tercatat 2.486.379 (Q1 2024), 2.480.965 (Q2 2024), dan 2.376.431 (Q3 2024), sementara total ekuitas 5.058.316 (Q1 2024), 4.662.127 (Q2 2024), dan 4.823.332 (Q3 2024).

Sepanjang Januari–September 2024, CNMA membukukan lonjakan laba bersih 36,57% secara tahunan menjadi Rp529,77 miliar. Dalam periode yang sama, pendapatan naik 12,12% year-on-year (YoY) dari Rp3,81 triliun menjadi Rp4,27 triliun. Rincian pendapatan Januari–September 2024 terdiri dari bioskop Rp2,67 triliun, makanan dan minuman Rp1,44 triliun, iklan Rp54,97 miliar, digital platform Rp81,73 miliar, serta acara dan pendapatan lainnya Rp23,32 miliar. Total beban dan biaya operasi tercatat Rp3,51 triliun, dengan beban keuangan Rp107,65 miliar.

Direktur Utama Cinema XXI, Suryo Suherman, menyampaikan bahwa pertumbuhan kinerja sepanjang Januari–September 2024 didorong strategi bisnis yang dinilai lebih efektif dan adaptif terhadap permintaan pasar, serta ekspansi di berbagai wilayah. Hingga 30 September 2024, jumlah penonton di Cinema XXI mencapai 66,1 juta penonton atau meningkat 11,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi jaringan, perusahaan menambah 42 layar baru di berbagai daerah. Dengan penambahan itu, CNMA mengoperasikan 249 bioskop dengan total 1.322 layar di 61 kota di Indonesia hingga akhir September 2024.

Adapun perbandingan rasio keuangan pada kuartal III 2023 dan kuartal III 2024 menunjukkan perubahan pada sejumlah indikator. Return on Equity (RoE) tercatat 10,04% (Q3 2023) menjadi 2,79% (Q3 2024), sementara Return on Assets (RoA) dari 5,84% menjadi 1,91%. Gross Profit Margin (GPM) relatif stabil dari 59,63% menjadi 59,4%. Sementara itu, Operating Profit Margin (OPM) meningkat dari 16,1% menjadi 17,69% dan Net Profit Margin (NPM) naik dari 10,18% menjadi 12,4%. Current Ratio (CR) tercatat 377,74% pada Q3 2023 dan 0% pada Q3 2024, sedangkan Debt to Equity Ratio (DER) berubah dari 55,00% menjadi 52%.

Memasuki 2025, manajemen CNMA menyatakan optimistis terhadap prospek pertumbuhan, meski industri bioskop sempat terdampak pandemi dan menghadapi tren digitalisasi. Corporate Secretary Cinema XXI, Indah Tri Wahyuni, menyampaikan bahwa perseroan berencana melanjutkan pengembangan jangkauan serta peningkatan kualitas layanan seiring kembalinya minat masyarakat menonton di bioskop.

Dalam strategi 2025, perusahaan disebut tetap menempatkan ekspansi dan pembaruan fasilitas sebagai fokus. Indah menyatakan anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) 2025 akan sebanding dengan yang dianggarkan pada 2024, dengan tujuan memperluas akses masyarakat terhadap jaringan bioskop.

CNMA juga menyoroti perubahan perilaku masyarakat yang kerap menjadikan mal sebagai lokasi beraktivitas bersama keluarga dan teman, yang kemudian berujung pada keputusan menonton film di bioskop. Di tengah persaingan dengan layanan streaming dan platform OTT, perusahaan menilai bioskop dan OTT dapat berjalan berdampingan. Menurut penjelasan Indah, bioskop menawarkan pengalaman menonton yang berbeda melalui layar besar dan teknologi suara yang tidak dapat ditiru sepenuhnya oleh platform streaming.

Terkait perubahan kebijakan pajak, khususnya PPN pada layanan hiburan, perusahaan menyatakan kebijakan tersebut tidak akan secara langsung mempengaruhi harga tiket. Dengan strategi ekspansi dan inovasi yang disiapkan, CNMA menargetkan penguatan posisi sebagai pemain utama di industri bioskop nasional.