NEW YORK — Indeks saham Amerika Serikat menguat tipis pada Senin (11/5) dan menutup perdagangan di level tertinggi sepanjang masa, seiring investor menantikan pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping. Pada saat yang sama, dolar AS bergerak menguat terbatas.
Di pasar energi, harga minyak melonjak setelah Trump menyatakan gencatan senjata AS dengan Iran berada “dalam kondisi kritis”. Ia juga menolak tanggapan Teheran terhadap proposal perdamaian AS sebagai “bodoh”, yang memicu kekhawatiran konflik yang telah berlangsung 10 minggu dapat berlarut-larut dan mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz.
Tanggapan Iran disebut menekankan penghentian perang di semua lini dan menuntut kompensasi atas kerusakan perang. Teheran juga menegaskan kedaulatannya atas Selat Hormuz, mendesak AS mengakhiri blokade angkatan laut, meminta jaminan tidak ada serangan lanjutan, pencabutan sanksi, serta penghapusan larangan penjualan minyak Iran.
Selanjutnya, isu Timur Tengah diperkirakan menjadi bagian penting dari agenda pertemuan tatap muka pertama Trump dan Xi dalam lebih dari enam bulan. Scott Wren, ahli strategi pasar global senior di Wells Fargo Investment Institute, mengatakan investor secara hati-hati berharap ada kemajuan menuju perdamaian.
“Semuanya tentang selat dan kapan selat itu akan dibuka,” kata Wren. “Ada optimisme bahwa China akan memiliki pengaruh dalam menyelesaikan masalah selat tersebut.”
Di Wall Street, indeks S&P 500 naik 13,91 poin atau 0,19% ke 7.412,84, sementara Nasdaq Composite naik 27,05 poin atau 0,10% ke 26.274,13. Keduanya mencatat rekor penutupan tertinggi. Dow Jones Industrial Average naik 95,31 poin atau 0,19% ke 49.704,47, namun masih berada di bawah rekor penutupan tertingginya pada 10 Februari.
Indeks saham global MSCI menguat 2,38 poin atau 0,22% menjadi 1.108,01. Di Eropa, indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup naik 0,11%.
Di pasar mata uang, dolar AS melemah dari level tertinggi sesi setelah penolakan Trump terhadap respons Iran mempertahankan kekhawatiran perang berkepanjangan. Indeks dolar turun 0,05% menjadi 97,96. Euro turun 0,06% ke US$1,1777, sementara dolar menguat 0,37% terhadap yen Jepang menjadi 157,23.
Poundsterling melemah 0,16% menjadi US$1,361, di tengah upaya Perdana Menteri Inggris Keir Starmer meredam gejolak internal Partai Buruh setelah kekalahan telak dalam pemilihan lokal pekan lalu.
Harga minyak ditutup naik hampir 3% setelah komentar Trump memicu kekhawatiran pasokan, dengan Selat Hormuz disebut sebagian besar tetap tertutup tanpa akhir yang jelas bagi perang tersebut. Minyak mentah AS ditutup naik 2,78% atau US$2,65 menjadi US$98,07 per barel. Brent naik 2,88% atau US$2,92 menjadi US$104,21 per barel.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS turut naik karena lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi. Imbal hasil obligasi acuan AS tenor 10 tahun naik 4,6 basis poin menjadi 4,41% dari 4,364% pada penutupan Jumat. Imbal hasil obligasi 30 tahun naik 3,6 basis poin menjadi 4,9835%. Sementara itu, imbal hasil obligasi 2 tahun—yang kerap bergerak seiring ekspektasi suku bunga Federal Reserve—naik 5,9 basis poin menjadi 3,952%.
Emas berbalik menguat dalam perdagangan yang bergejolak, ketika investor menilai perkembangan diplomasi AS-Iran dan menunggu rilis data inflasi AS yang dijadwalkan akhir pekan ini. Harga emas spot naik 0,44% menjadi US$4.735,39 per ons, sedangkan kontrak berjangka emas AS naik 0,15% menjadi US$4.727,70 per ons.