BERITA TERKINI
SAGAVET 2025 Soroti Perkembangan Peternakan dan Teknologi Diagnostik Mata Hewan

SAGAVET 2025 Soroti Perkembangan Peternakan dan Teknologi Diagnostik Mata Hewan

Seminar SAGAVET 2025 yang digelar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga berlangsung di Diamond Ballroom, Hotel Swis Belinn, Surabaya. Kegiatan ini mengangkat tema “Update Perkembangan Dunia Peternakan dan Kesehatan Hewan di Tengah Kebijakan Global dan Nasional,” serta menghadirkan pakar, akademisi, dan praktisi dari berbagai bidang peternakan dan kesehatan hewan di Indonesia.

Acara pada Sabtu (27/09/2025) berlangsung sejak pukul 07.30 hingga 16.00 WIB. Rangkaian kegiatan dikemas dalam presentasi ilmiah, diskusi panel, hingga sesi interaktif yang disertai kuis dan doorprize.

Salah satu sesi membahas perkembangan teknologi diagnostik di bidang oftalmologi hewan. Drh Lina Susanti MS PhD menjelaskan keberadaan tapetum lucidum, lapisan di belakang retina yang memantulkan cahaya untuk memperkuat penglihatan malam pada hewan. Menurutnya, refleksi cahaya pada tapetum kerap tampak sangat cerah sehingga menyulitkan dokter hewan membedakan detail retina saat pemeriksaan menggunakan ophthalmoscope.

Dalam pemaparannya, Lina memperkenalkan teknologi Electroretinography (ERG) yang mulai masuk ke Indonesia. ERG digunakan untuk mengukur aktivitas listrik sel-sel retina sehingga penilaian fungsi retina dapat dilakukan lebih akurat dibandingkan pemeriksaan visual semata. Ia menyebut, sejumlah penyakit retina tidak selalu tampak secara anatomi, namun fungsi retina dapat menurun signifikan. Pada kondisi seperti itu, ERG dinilai membantu mendeteksi gangguan yang berpotensi terlewat.

Lina juga menyoroti tantangan diagnosis Sudden Acquired Retinal Degeneration Syndrome (SARDS). Ia menjelaskan, pada awalnya hewan dengan SARDS dapat tampak normal dan masih berjalan seperti biasa, namun dalam waktu singkat dapat kehilangan penglihatan hingga menabrak benda di sekitarnya. Kesulitan utama, menurutnya, adalah pemeriksaan ophthalmoscopy sering menunjukkan retina terlihat normal sehingga diagnosis bisa terlewat.

Melalui ERG, dokter hewan dapat membedakan SARDS dari penyakit lain yang menyerang saraf mata, seperti glaukoma dan optic neuritis. Lina memaparkan beberapa kasus bilateral SARDS yang pernah ia tangani, di mana hasil ERG memperlihatkan variasi gelombang retina meskipun secara oftalmoskopi tampak normal. Ia juga menunjukkan perbandingan histologi yang memperlihatkan perbedaan antara retina normal dan retina pasien SARDS, dengan temuan sel-sel retina yang rusak, menipis, dan tidak lagi teratur.

Hingga saat ini, SARDS disebut belum memiliki terapi yang efektif. Lina menyampaikan bahwa sejumlah percobaan penggunaan obat, termasuk steroid, masih memberikan harapan terbatas. Ia menegaskan, apabila diagnosis terlambat—misalnya lebih dari satu bulan—kerusakan retina umumnya bersifat permanen dan sulit diselamatkan.