Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi kondisi pasar keuangan domestik setelah nilai tukar rupiah menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS, berbarengan dengan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Ia menilai indikator ekonomi nasional saat ini tidak sejalan dengan asumsi resesi yang belakangan beredar.
Usai inspeksi mendadak di Pasar Tanah Abang, Senin (9/3/2026), Purbaya menyebut narasi yang menyamakan situasi saat ini dengan krisis 1998 tidak tepat. Menurutnya, perekonomian masih berada dalam fase ekspansi dan pemerintah menjaga daya beli masyarakat.
“Rupiah Rp17.000 per USD, IHSG anjlok karena sebagian teman-teman ekonom bilang katanya kita sudah resesi menuju 1998 lagi. Gitu lah. Daya beli sudah hancur. Tidak seperti itu. Ekonomi sedang ekspansi, daya beli kita jaga mati-matian, dan boro-boro krisis, resesi aja belum. Melambatnya aja belum,” kata Purbaya.
Di tengah gejolak pasar saham, Purbaya meminta investor tetap tenang dan tidak terjebak kepanikan. Ia menegaskan pemerintah terus menjaga fondasi ekonomi agar tetap kokoh di tengah tekanan eksternal global.
“Kita masih ekspansi, masih akselerasi. Itu yang kita jaga terus dalam beberapa minggu ke depan. Jadi yang investor di pasar saham nggak usah takut, pondasi kita jaga betul,” ujarnya.
Purbaya juga menyinggung pengalaman Indonesia menghadapi berbagai guncangan ekonomi global, termasuk krisis 2008 dan pandemi 2020. Ia menilai rekam jejak tersebut menjadi modal untuk merumuskan kebijakan mitigasi yang tepat dalam merespons volatilitas pasar keuangan.
“Kita sudah tahu krisis 98 apa penyebabnya, kita terapkan di 2008-2009 ketika global jatuh kita tumbuh bagus kan, 2020 kita jaga juga ekonominya dengan kebijakan yang pas. Jadi teman-teman nggak usah takut, kita sudah punya pengalaman dan pengetahuan yang cukup untuk memitigasi segala gejolak yang terjadi,” kata Purbaya.
Ia meyakini momentum pertumbuhan ekonomi dapat tetap terjaga melalui langkah-langkah strategis yang diambil pemerintah secara berkala untuk menetralisir dampak negatif dari volatilitas pasar keuangan global.
“Yang jelas kalau pengalaman 2008, 2020, 2015, kita bisa menjaga momentum pertumbuhan ekonomi kita,” ujarnya.

