BERITA TERKINI
Rupiah Melemah ke Rp17.429 per Dolar AS, Ekonom Soroti Tekanan Global dan Arus Modal Keluar

Rupiah Melemah ke Rp17.429 per Dolar AS, Ekonom Soroti Tekanan Global dan Arus Modal Keluar

JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah hingga menyentuh Rp17.429 pada Selasa (5/5/2026). Level tersebut menjadi salah satu yang terendah sepanjang sejarah, di tengah meningkatnya tekanan eksternal dan arus keluar modal asing yang berlanjut dalam beberapa waktu terakhir.

Ekonom Ferry Latuhihin menilai pelemahan rupiah tidak semata dipengaruhi faktor domestik, melainkan juga kondisi global yang belum stabil. Ia menyebut ketegangan geopolitik internasional turut memicu ketidakpastian pasar, terutama melalui fluktuasi harga energi dunia.

“Risiko ekonomi ke depan makin meningkat dan capital outflow mungkin makin deras,” ujar Ferry dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (5/5/2026).

Ferry menjelaskan, konflik yang melibatkan negara produsen energi berpotensi memicu lonjakan harga minyak yang sulit diprediksi. Situasi ini dinilai berdampak langsung pada negara berkembang, termasuk Indonesia, yang masih memiliki ketergantungan terhadap impor energi.

Selain faktor global, ia juga menyoroti pergerakan rupiah terhadap mata uang kawasan. Dalam beberapa tahun terakhir, rupiah dinilai mengalami tekanan lebih besar dibandingkan mata uang negara tetangga. Kondisi ini disebut mencerminkan perubahan persepsi risiko investor terhadap ekonomi Indonesia.

Data yang disampaikan menunjukkan bahwa sejak awal 2025, rupiah mengalami depresiasi signifikan terhadap sejumlah mata uang regional. Perkembangan tersebut berbeda dengan periode sebelumnya yang relatif stabil, sehingga mengindikasikan adanya perubahan kondisi fundamental dan dinamika pasar.

Ferry menambahkan, indikator ekonomi konvensional dinilai tidak lagi sepenuhnya relevan untuk membaca situasi saat ini. Menurutnya, perubahan struktur risiko global dan pergeseran arus modal menuntut analisis yang lebih komprehensif, termasuk memperhitungkan kepemilikan asing pada instrumen keuangan domestik.

Ia juga menyoroti peningkatan Credit Default Swap (CDS) Indonesia yang dinilai mencerminkan naiknya persepsi risiko gagal bayar di mata investor internasional. Kenaikan indikator tersebut menunjukkan pasar global melihat adanya peningkatan ketidakpastian dalam ekonomi nasional.

Dalam kondisi ini, Ferry menekankan pentingnya respons kebijakan yang adaptif dan terukur. Stabilitas nilai tukar dipandang menjadi salah satu kunci untuk menjaga kepercayaan investor serta mengendalikan inflasi yang berpotensi meningkat akibat pelemahan mata uang.

Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah berpotensi memengaruhi sektor riil, antara lain melalui kenaikan biaya impor bahan baku dan barang konsumsi. Dampaknya dapat merembet pada daya beli masyarakat serta kinerja industri dalam negeri.

Ferry menilai pemerintah dan otoritas terkait perlu memperkuat fundamental ekonomi melalui kebijakan fiskal dan moneter untuk meredam dampak gejolak global. Upaya menjaga stabilitas pasar keuangan juga dinilai penting agar arus modal tidak terus keluar dalam jumlah besar.

Dengan situasi global yang masih berfluktuasi, pergerakan rupiah ke depan diperkirakan tetap dipengaruhi dinamika eksternal serta respons kebijakan domestik. Pelaku pasar disebut masih menunggu langkah lanjutan otoritas dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.