Pasar keuangan Indonesia membuka pekan dengan tekanan kuat. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah signifikan, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turut terkoreksi tajam pada perdagangan Senin (9/3/2026).
Berdasarkan data perdagangan terbaru, rupiah tercatat turun 76 poin atau sekitar 0,45%. Pelemahan tersebut membawa rupiah menembus level Rp 17.001 per dolar AS.
Tekanan juga terlihat di pasar saham. Hingga pukul 11.19 WIB menjelang penutupan sesi pertama, IHSG berada di level 7.334. Indeks terkoreksi 3,31% atau turun 250,9 poin.
Direktur Eksekutif INDEF, Esther Sri Astuti, menilai pelemahan rupiah dan penurunan IHSG tidak terlepas dari meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat. Menurutnya, situasi tersebut berdampak pada jalur logistik global.
“Logistik dan transportasi kini dipaksa mencari rute jalur yang lebih aman. Dampaknya, jalur menjadi lebih panjang dan biaya operasional membengkak,” ujar Esther saat dihubungi.
Ia menambahkan, faktor keamanan angkutan minyak dan komoditas lain menjadi perhatian serius. Minimnya kapal yang berani melintas di zona rawan mendorong biaya kargo meningkat, yang pada akhirnya berpotensi memicu kenaikan harga barang di tingkat global.
Esther juga menyoroti kemungkinan dampak lanjutan terhadap perekonomian domestik. Pelemahan rupiah yang terjadi bersamaan dengan kenaikan harga minyak mentah dunia diperkirakan dapat menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Jika tren berlanjut, asumsi harga minyak dalam APBN dinilai perlu ditinjau karena berpotensi memicu pembengkakan subsidi bahan bakar minyak (BBM).
Selain sektor energi, industri penerbangan juga dinilai berisiko terdampak. “Potensi kenaikan harga tiket pesawat bisa terjadi. Selain karena biaya bahan bakar (avtur) yang naik, risiko keamanan memaksa maskapai mengambil rute memutar yang lebih mahal,” kata Esther.
Untuk menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian, Esther menyarankan sejumlah langkah yang dapat dipertimbangkan pemerintah. Di antaranya mendorong devisa dari sektor pariwisata untuk meningkatkan pemasukan dalam bentuk dolar AS, serta penerapan multicurrency payment dengan memberi fleksibilitas transaksi menggunakan beberapa mata uang.
Ia juga menyarankan penggunaan strategi hedging atau lindung nilai pada kontrak ekspor-impor untuk meminimalkan risiko fluktuasi kurs, serta memperluas skema local currency settlement (LCS) guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam perdagangan internasional, misalnya dengan menggunakan mata uang negara mitra.
Pergerakan rupiah dan koreksi IHSG pada awal pekan ini menjadi sinyal kewaspadaan bagi pelaku pasar dan pemerintah untuk memperkuat fundamental ekonomi domestik di tengah dinamika geopolitik global yang masih berkembang.

