BERITA TERKINI
Rupiah Melemah ke Rp 16.780 per Dolar AS, Pasar Mencermati Sentimen Global dan Faktor Domestik

Rupiah Melemah ke Rp 16.780 per Dolar AS, Pasar Mencermati Sentimen Global dan Faktor Domestik

Jakarta — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Jumat (27 Februari 2026). Pada sesi pagi, dolar AS berada di kisaran Rp 16.700-an, mencerminkan tekanan yang kembali dirasakan mata uang Garuda di tengah dinamika pasar global dan perhatian terhadap prospek ekonomi domestik.

Berdasarkan data Bloomberg, dolar AS menguat 0,13% ke level Rp 16.780. Posisi ini lebih tinggi dibanding penutupan Kamis (26 Februari 2026) di Rp 16.759. Saat pembukaan perdagangan, dolar AS sempat menyentuh level tertinggi Rp 16.788, lalu bergerak fluktuatif dalam rentang Rp 16.775 hingga Rp 16.788.

Pelemahan rupiah berpotensi berdampak pada sejumlah aspek ekonomi. Kenaikan kurs dolar dapat mendorong kenaikan harga barang impor, yang pada gilirannya berisiko memicu tekanan inflasi. Kondisi ini juga dapat menambah beban korporasi yang memiliki kewajiban dalam denominasi dolar AS karena biaya pembayaran utang meningkat. Di sisi lain, pergerakan rupiah turut memengaruhi daya saing ekspor Indonesia di pasar internasional.

Namun, pergerakan rupiah juga perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas. Perubahan kurs tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan internal, mulai dari sentimen pasar global, kebijakan moneter negara maju, hingga kondisi ekonomi domestik.

Dari sisi eksternal, perhatian pasar tertuju pada arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Kenaikan suku bunga acuan di AS berpotensi mendorong aliran modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia, menuju aset berdenominasi dolar. Situasi ini dapat meningkatkan permintaan dolar AS dan memperkuat nilainya terhadap mata uang negara berkembang.

Sentimen global juga berperan. Ketika ketidakpastian atau gejolak meningkat di pasar keuangan dunia, investor cenderung mencari aset yang dinilai aman (safe haven), salah satunya dolar AS. Peralihan preferensi tersebut dapat mendorong penguatan dolar terhadap sejumlah mata uang.

Sementara dari sisi internal, arah rupiah dipengaruhi oleh kondisi ekonomi domestik, seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan stabilitas politik. Pertumbuhan yang solid, inflasi yang terjaga, serta stabilitas dapat menjadi penopang nilai tukar. Sebaliknya, perlambatan ekonomi, kenaikan inflasi, atau ketidakstabilan dapat menambah tekanan terhadap rupiah.

Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) memiliki peran dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Pemerintah dapat menempuh kebijakan untuk meningkatkan daya saing ekonomi, menarik investasi, dan mengendalikan inflasi. BI, di sisi lain, dapat melakukan langkah di pasar valuta asing guna meredam volatilitas, serta memanfaatkan instrumen moneter seperti suku bunga acuan dengan tetap mempertimbangkan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi.

BI juga dapat melakukan intervensi langsung melalui aktivitas jual-beli dolar AS untuk memengaruhi keseimbangan permintaan dan penawaran di pasar, dengan tujuan menjaga stabilitas dan mencegah gejolak berlebihan.

Di tengah pelemahan rupiah, pergerakan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama menunjukkan dinamika yang beragam. Dolar AS tercatat melemah terhadap euro (EUR) sebesar 0,02% dan terhadap yen Jepang (JPY) sebesar 0,14%. Terhadap dolar Kanada (CAD) dan franc Swiss (CHF), dolar AS masing-masing turun 0,04% dan 0,06%. Di sisi lain, dolar AS menguat 0,04% terhadap dolar Australia (AUD) dan bergerak stagnan terhadap poundsterling (GBP). Kondisi ini mengindikasikan perubahan kurs rupiah juga terjadi dalam lanskap pergerakan global yang dinamis.

Ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan tetap dipengaruhi perkembangan global dan domestik. Pemerintah dan BI disebut perlu terus memantau situasi serta menyiapkan langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.

Bagi pelaku pasar dan masyarakat, fluktuasi kurs menjadi faktor yang perlu dicermati dengan mengandalkan informasi dan analisis yang memadai dalam pengambilan keputusan, termasuk dalam pengelolaan risiko terkait pergerakan nilai tukar.