JAKARTA – Nilai tukar rupiah melemah di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, terutama setelah Amerika Serikat (AS) memutuskan mengirim pasukan ke Timur Tengah. Situasi tersebut memicu sentimen risk-off di pasar global, ketika investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko di negara berkembang dan beralih ke aset safe haven seperti dolar AS.
Dampak dari perubahan sentimen itu turut dirasakan rupiah melalui arus keluar modal asing (capital outflow) yang menekan pergerakan kurs. Selain itu, kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi global ikut mendorong kenaikan harga minyak, yang dinilai dapat memperlebar defisit transaksi berjalan Indonesia dan menambah tekanan terhadap rupiah.
Dalam jangka pendek, pergerakan rupiah diperkirakan masih sangat dipengaruhi dinamika eksternal. Meski demikian, faktor domestik seperti stabilitas ekonomi, intervensi Bank Indonesia, serta fundamental ekonomi disebut menjadi penopang penting untuk meredam volatilitas berlebihan.
Pada perdagangan Jumat (27/3) sore, rupiah ditutup melemah 75 poin menjadi Rp16.979 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.904 per dolar AS.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuabi menilai pelemahan rupiah sejalan dengan keputusan AS mengirim pasukan ke Timur Tengah. Ia menyebut bahwa meskipun Donald Trump mengumumkan penghentian serangan terhadap infrastruktur energi Iran, AS tetap mengirim pasukan ke kawasan tersebut, dengan Trump mempertimbangkan penggunaan pasukan darat untuk merebut pusat minyak strategis Iran di Pulau Kharg.
Ibrahim juga menyampaikan perang antara AS dan Iran telah mengurangi pasokan minyak global sebesar 11 juta barel per hari. Badan Energi Internasional menggambarkan krisis tersebut lebih buruk dibanding dua guncangan minyak pada 1970-an dan perang gas Rusia–Ukraina jika digabungkan.
Selain faktor energi, pasar juga memperkirakan skenario inflasi tinggi. Ibrahim mengatakan, pada awal tahun para pedagang memperkirakan setidaknya dua kali pemotongan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed). Namun, sejak konflik dimulai dan setelah keputusan kebijakan The Fed pada 18 Maret, ekspektasi kebijakan yang lebih longgar tersebut berkurang.
Sementara itu, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari yang sama tercatat melemah ke level Rp16.957 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.903 per dolar AS.

