BERITA TERKINI
Rupiah Melemah, Bank Diminta Perketat Likuiditas dan Risiko Valas di Tengah Ketidakpastian Global

Rupiah Melemah, Bank Diminta Perketat Likuiditas dan Risiko Valas di Tengah Ketidakpastian Global

Pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa hari terakhir menambah tantangan bagi stabilitas sektor keuangan Indonesia, seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Kondisi ini menuntut respons cepat dari perbankan nasional agar tetap mampu menjaga ketahanan sistem keuangan di tengah volatilitas pasar.

Tekanan dari faktor eksternal—mulai dari ketegangan geopolitik hingga perubahan arus modal internasional—mendorong sebagian investor mengalihkan dana ke aset yang dinilai lebih aman. Perpindahan dana tersebut turut memengaruhi dinamika pasar keuangan domestik, termasuk pergerakan nilai tukar.

Dalam situasi bergejolak, bank dituntut menjalankan strategi ganda: tetap melakukan ekspansi bisnis secara sehat, sekaligus memperkuat pengelolaan risiko dengan lebih disiplin. Fokus utamanya adalah menjaga kualitas aset di tengah volatilitas yang tinggi.

Sejumlah langkah dinilai krusial untuk segera diperkuat, antara lain manajemen likuiditas di pasar domestik dan pengendalian ketat terhadap eksposur valuta asing. Selain itu, selektivitas penyaluran kredit menjadi faktor penting untuk menopang kinerja perbankan secara keseluruhan.

Dari sisi ketahanan, stabilitas permodalan dan kecukupan cadangan kerugian penyerapan kerugian (CKPN) juga disebut sebagai penentu utama agar bank tetap mampu memberikan dukungan secara prudent terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Rizal Rafly menyampaikan bahwa meningkatnya kebutuhan lindung nilai dari pelaku usaha berpotensi menjadi sumber pertumbuhan pendapatan berbasis komisi bagi bank yang memiliki kapabilitas layanan treasury. “Peningkatan kebutuhan lindung nilai dari pelaku usaha dapat menjadi sumber pertumbuhan fee based income bagi bank yang memiliki kapabilitas layanan treasury yang memadai,” ujarnya dalam keterangan, Rabu, 25 Maret 2026.

PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (BWS) disebut telah beradaptasi terhadap dinamika pasar melalui penguatan basis dana murah. Bank tersebut juga mengoptimalkan pembiayaan ke sektor-sektor yang dinilai lebih tahan terhadap fluktuasi nilai tukar.

Rafly juga menekankan pentingnya pendekatan kehati-hatian dalam ekspansi kredit, terutama pada debitur dengan eksposur impor tinggi, untuk menjaga kualitas portofolio pembiayaan. “Pendekatan kehati-hatian dalam ekspansi kredit, khususnya pada debitur dengan eksposur impor tinggi, relevan untuk menjaga kualitas portofolio pembiayaan,” ujarnya.

Selain penguatan manajemen risiko, diversifikasi sumber pendapatan dinilai menjadi strategi penting untuk menjaga profitabilitas perbankan. Langkah ini dipandang sebagai penyangga apabila terjadi tekanan margin akibat gejolak di pasar keuangan.