Nama Rismon Sianipar kembali menjadi perhatian publik seiring kabar perubahan sikapnya dalam polemik ijazah Presiden Joko Widodo. Rismon sebelumnya dikenal vokal mempertanyakan keaslian dokumen pendidikan sejumlah tokoh politik melalui analisis forensik digital, yang sempat memicu perdebatan luas di media sosial dan ruang diskusi publik.
Pada Maret 2026, Rismon menyampaikan permintaan maaf dan membuka peluang penyelesaian perkara melalui mekanisme restorative justice. Ia menyatakan analisis yang pernah disampaikannya keliru dan menyebut ijazah Jokowi sebenarnya asli.
Rismon Hasiholan Sianipar lahir pada 25 April 1977 di Pematangsiantar, Sumatera Utara. Ia dikenal sebagai akademisi, peneliti, pengembang perangkat lunak, serta pakar forensik digital. Bidang keahliannya mencakup kriptografi, keamanan multimedia, pemrosesan sinyal digital, hingga kompresi data.
Riwayat pendidikannya dimulai dari sarjana teknik elektro di Universitas Gadjah Mada (UGM) yang diselesaikannya pada 1998. Ia kemudian meraih gelar magister teknik di UGM pada 2001, sebelum melanjutkan studi doktoral di Universitas Yamaguchi, Jepang, dan lulus pada 2008 di bidang teknik.
Dalam karier profesional, Rismon pernah menjadi dosen di Fakultas Teknik Universitas Mataram. Di lingkungan akademik, ia disebut aktif mengembangkan perangkat lunak penelitian dengan sejumlah bahasa pemrograman, seperti MATLAB, C#, dan Java. Selain mengajar, ia juga dikenal sebagai konsultan dan penulis yang menaruh perhatian pada kajian kriptografi serta analisis data digital.
Aktivitasnya juga tampak di media sosial dan kanal YouTube, tempat ia kerap membahas forensik digital dan isu hukum. Melalui berbagai platform tersebut, ia pernah menyampaikan kritik terhadap institusi maupun dokumen publik berdasarkan pendekatan analisis teknis.
Polemik terkait ijazah Jokowi mencuat setelah Rismon menyampaikan kritik dan menuding adanya kejanggalan pada dokumen pendidikan tersebut, yang kemudian dikaitkan dengan isu politik nasional. Perdebatan semakin meluas ketika muncul laporan terhadap Rismon terkait dugaan penggunaan ijazah palsu dari Universitas Yamaguchi. Situasi ini memicu respons beragam dari pihak yang mendukung maupun mengkritik pernyataannya.
Perkembangan terbaru pada Maret 2026 menandai perubahan sikap Rismon. Ia menyatakan analisis sebelumnya keliru, menyebut ijazah Jokowi asli, dan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka, sekaligus membuka opsi penyelesaian melalui restorative justice.

