BERITA TERKINI
Risiko Ekonomi Global 2026: Langkah yang Perlu Disiapkan Bisnis di Tengah Ketidakpastian

Risiko Ekonomi Global 2026: Langkah yang Perlu Disiapkan Bisnis di Tengah Ketidakpastian

Ketidakpastian ekonomi global kembali menempatkan manajemen risiko sebagai isu kunci bagi dunia usaha menjelang 2026. Sejumlah pakar menilai, tantangan utama bukan terletak pada kemampuan membuat prediksi yang tepat, melainkan pada kesiapan organisasi dalam mengidentifikasi risiko, membangun tata kelola yang efektif, dan rutin menguji asumsi ketika informasi terus berubah.

Pada 2025, perhatian banyak praktisi manajemen risiko tertuju pada beberapa area yang dinilai membutuhkan penguatan dalam tata kelola, mulai dari risiko pihak lawan di tengah instabilitas global, dampak fluktuasi nilai tukar, hingga peran budaya perusahaan dalam pengambilan keputusan. Douglas Matheson, Direktur Senior Manajemen Risiko Kredit dan Kepatuhan di HSBC Vietnam, menyoroti kembalinya volatilitas nilai tukar sebagai salah satu faktor penting. Fluktuasi mata uang regional dinilai menyulitkan perusahaan lintas batas dalam menyusun strategi, sementara sentimen pasar juga bergerak cepat di tengah meningkatnya ketidakpastian global, dengan investor cenderung mencari aset aman.

Matheson menilai kondisi tersebut menunjukkan pasar keuangan global dapat berubah dengan cepat bila tidak disertai langkah mitigasi risiko yang memadai. Bagi bisnis di Vietnam, isu tarif juga disebut menjadi tantangan tersendiri dalam lingkungan usaha.

Risiko-risiko yang telah muncul sebelumnya dinilai belum mereda. Sejumlah peristiwa pada Maret menjadi contoh bagaimana gejolak di wilayah lain dapat dengan cepat berdampak ke Vietnam. Kenaikan harga minyak, misalnya, memicu antrean di stasiun pengisian bahan bakar. Dampak lanjutan dari volatilitas energi turut menekan sektor lain, dengan maskapai penerbangan dan perusahaan pelayaran memperingatkan potensi kenaikan harga.

Di saat yang sama, konflik di Timur Tengah—yang disebut sebagai sumber pupuk penting—mendorong harga urea melonjak pada pekan pertama Maret. Harga aluminium juga naik sekitar 7% hanya dalam satu pekan dan mencapai level tertinggi dalam empat tahun. Selain itu, anggota parlemen Korea Selatan memperingatkan ketergantungan pasokan helium dari Timur Tengah berpotensi berdampak negatif bagi industri semikonduktor. Rangkaian perkembangan ini menegaskan keterkaitan rantai pasok global dan luasnya dampak yang dapat timbul dari gangguan di satu titik.

Para ahli juga menilai banyak kegagalan manajemen risiko bukan semata karena ketiadaan kebijakan, melainkan akibat rasa percaya diri berlebihan atau pemikiran kelompok. Perspektif yang beragam—terutama dari latar belakang profesional berbeda—disebut dapat memengaruhi cara risiko dinilai dan prioritas ditetapkan.

Dari sektor perbankan, sejumlah pelajaran 2025 turut disorot. Tong Tran Hieu, Kepala Manajemen Risiko Terpadu di Vietcombank, mengatakan ia melihat peluang sekaligus risiko terkait keamanan siber dan kecerdasan buatan. Menurutnya, AI dapat meningkatkan pengalaman pelanggan, salah satunya melalui penerapan chatbot yang telah digunakan Vietcombank. Namun, seiring meluasnya pemanfaatan AI, organisasi dinilai perlu menjaga kerangka tata kelola AI yang kuat, terutama ketika AI digunakan dalam keputusan penting.

Hieu menekankan kehati-hatian diperlukan karena keterbatasan akuntabilitas pada sebagian algoritma, serta potensi bias data dan diskriminasi yang tidak disengaja. Dalam banyak kasus, keterlibatan manusia masih dibutuhkan hingga keandalan sistem benar-benar terjamin.

Sementara itu, Tran Phuong, Wakil Direktur Jenderal BIDV, menyoroti pentingnya mengaitkan sistem peringatan dini dengan tindakan nyata. Menurutnya, risiko kerap sudah teridentifikasi, tetapi kerusakan tetap terjadi karena respons terlambat terhadap sinyal peringatan. Karena itu, sistem peringatan dini perlu dilengkapi ambang batas intervensi yang jelas.

Phuong juga menekankan perlunya mempertimbangkan korelasi antarjenis risiko. Dalam perbankan, periode tekanan jarang dipicu oleh pelanggaran satu metrik saja. Standar seperti Basel III memperkenalkan rasio kunci seperti rasio cakupan likuiditas (LCR) dan rasio modal stabil bersih (NSFR), namun ia mengingatkan metrik tersebut tidak seharusnya diperlakukan hanya sebagai alat kepatuhan. Ia menegaskan bahwa profitabilitas berkelanjutan menuntut organisasi melihat melampaui regulasi dan fokus pada tingkat pertumbuhan serta struktur yang tepat.

Menjelang sisa 2026, para pakar manajemen risiko menyampaikan beberapa rekomendasi utama. Pertama, organisasi perlu proaktif memantau tren yang muncul. Di tengah banyaknya masalah yang harus ditangani, perusahaan kerap terpaku pada risiko yang sudah dikenal, padahal perubahan besar bisa datang dari area yang kurang diperhatikan. Karena itu, pengamatan yang konstan dan pola pikir pembelajaran dinilai penting.

Kedua, perusahaan perlu memprioritaskan tindakan dan memperkuat konektivitas internal. Identifikasi risiko semata dinilai tidak cukup tanpa langkah implementasi yang konkret. Ketiga, budaya manajemen risiko perlu diperkuat melalui pemikiran yang beragam dan dorongan terhadap pemikiran kritis, termasuk kesediaan untuk mengajukan pertanyaan dan membuka ruang diskusi.

Dalam konteks saat ini, para ahli menilai pertanyaan utamanya bukan apakah gangguan baru akan terjadi, melainkan apakah sistem pengambilan keputusan organisasi cukup kuat untuk menghadapinya. Visi strategis, konektivitas, serta tindakan yang tepat waktu disebut menjadi pembeda antara organisasi yang sekadar bereaksi terhadap ketidakpastian dan organisasi yang mampu mengelolanya secara proaktif.