BERITA TERKINI
Riset: Pengalaman Non-Akademik Rektor Berkaitan dengan Skor Keberlanjutan Perguruan Tinggi

Riset: Pengalaman Non-Akademik Rektor Berkaitan dengan Skor Keberlanjutan Perguruan Tinggi

Deklarasi Stockholm 1972 kerap disebut sebagai tonggak awal tata kelola lingkungan global yang menekankan pentingnya keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian lingkungan. Seiring menguatnya agenda keberlanjutan di tingkat dunia, perguruan tinggi juga semakin dinilai berdasarkan kinerja keberlanjutan, salah satunya melalui sistem pemeringkatan STARS (Sustainability Tracking, Assessment & Rating System) dari AASHE.

Dalam konteks itu, kepemimpinan rektor atau presiden universitas dinilai berperan penting karena latar belakang karier dapat memengaruhi cara keberlanjutan dipahami, diprioritaskan, dan dijalankan di institusi. Berangkat dari Upper Echelons Theory, penelitian ini mengemukakan bahwa pemimpin dengan pengalaman non-akademik cenderung lebih pragmatis, akuntabel, dan berorientasi implementasi dibanding pemimpin yang sepenuhnya meniti karier di lingkungan akademik.

Studi ini meneliti hubungan antara latar belakang karier presiden perguruan tinggi dan kinerja keberlanjutan institusi, yang diukur menggunakan skor STARS-AASHE. Variabel utama yang diuji adalah pengalaman non-akademik presiden, yang dikodekan sebagai variabel dummy: nilai 1 untuk presiden yang pernah bekerja di luar akademia dan 0 untuk presiden yang seluruh kariernya berada di ranah akademik.

Sampel penelitian mencakup 391 institusi pendidikan tinggi (higher education institutions/HEI) global yang tercatat dalam basis data STARS per April 2025. Analisis dilakukan menggunakan STATA 16, mencakup statistik deskriptif, korelasi Pearson, uji t, dan regresi OLS. Peneliti juga menjalankan uji ketahanan (robustness check) dengan pendekatan propensity score matching (PSM) untuk mengurangi potensi bias seleksi, mengingat penunjukan presiden universitas tidak terjadi secara acak.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa presiden perguruan tinggi yang memiliki pengalaman non-akademik berasosiasi positif dengan skor keberlanjutan yang lebih tinggi. Hubungan positif tersebut disebut lebih menonjol ketika pengalaman pemimpin didukung latar belakang bisnis atau ekonomi, serta pada institusi pendidikan tinggi yang berukuran lebih kecil.

Temuan ini menegaskan pentingnya keberagaman latar belakang kepemimpinan, kompetensi strategis, dan konteks institusional dalam memperkuat tata kelola keberlanjutan di perguruan tinggi modern pada skala global. Penelitian ini ditulis oleh Rosyadatul Ulufiyah, Iman Harymawan, Akmalia Mohamad Ariff, dan Suhaily Hasnan.