BERITA TERKINI
Respons Warga di Berbagai Negara Hadapi Krisis Energi Global, dari Konversi Gas hingga Berbagi Tumpangan

Respons Warga di Berbagai Negara Hadapi Krisis Energi Global, dari Konversi Gas hingga Berbagi Tumpangan

Ketegangan di kawasan Timur Tengah pada 2026 memicu krisis energi global yang berdampak pada kenaikan harga dan kelangkaan bahan bakar di sejumlah negara. Di tengah situasi tersebut, warga di berbagai tempat menunjukkan beragam cara beradaptasi, mulai dari perubahan moda transportasi hingga solusi kolektif untuk menekan pengeluaran energi.

Di Peru, sebagian warga memilih mengonversi kendaraan mereka dari BBM ke gas alam yang dinilai lebih murah. Sejumlah bengkel kecil bahkan menawarkan jasa konversi cepat sebagai langkah darurat. Dalam kisah yang pernah disampaikan Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia, Tulus Abadi, respons warga Peru juga terlihat lewat pilihan bersepeda untuk mengurangi ketergantungan pada BBM.

Di Filipina, pengemudi transportasi umum mulai berbagi rute dan penumpang secara kolektif sebagai cara menekan biaya bahan bakar. Pada saat yang sama, sebagian warga memilih bersepeda atau berjalan kaki untuk perjalanan jarak dekat.

Adapun di Vietnam, masyarakat ramai-ramai mengatur ulang pola perjalanan. Beberapa keperluan digabungkan dalam satu perjalanan, dan penggunaan kendaraan listrik kecil meningkat sebagai alternatif mobilitas.

Di Sri Lanka, warga membentuk komunitas berbagi kendaraan atau carpool. Bahkan, di beberapa lingkungan, jadwal penggunaan kendaraan dibagi bersama untuk menghemat BBM yang langka.

Sementara itu di Kenya, banyak pengendara beralih ke sepeda motor yang lebih hemat bahan bakar atau transportasi informal yang dinilai lebih efisien. Para pedagang lokal juga menyesuaikan jam operasional agar tidak terlalu bergantung pada distribusi yang membutuhkan bahan bakar mahal.

Di Mesir, warga mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan lebih mengandalkan transportasi umum atau berbagi tumpangan. Berbagai pengalaman tersebut menunjukkan kecenderungan masyarakat untuk cepat beradaptasi saat harga BBM melonjak, terutama melalui perubahan kebiasaan harian, efisiensi perjalanan, dan solusi bersama.

Di Indonesia, gejala penyesuaian serupa juga terlihat. Banyak warga mulai beralih ke motor yang lebih irit atau menggunakan sepeda listrik, terutama untuk jarak dekat. Sebagian lainnya mengurangi frekuensi bepergian dan menggabungkan beberapa keperluan dalam satu perjalanan.

Kreativitas juga muncul di tingkat komunitas serta usaha kecil. Sejumlah pelaku UMKM dan petani mencoba memanfaatkan bahan bakar alternatif sederhana, seperti campuran biofuel skala kecil atau penggunaan limbah minyak jelantah untuk kebutuhan tertentu.

Di daerah pedesaan, sebagian warga menghidupkan kembali pola hidup hemat energi, misalnya dengan berjalan kaki atau menggunakan transportasi bersama untuk aktivitas harian. Di lingkungan perkantoran dan sekolah, kebijakan tidak resmi seperti kerja dari rumah atau jadwal bergantian turut membantu mengurangi konsumsi BBM.