Hubungan perdagangan Amerika Serikat dan China kembali memasuki fase ketidakpastian. Kedua negara sama-sama berupaya menghindari perang dagang yang dapat mengganggu ekonomi global, namun tetap bersaing untuk memperoleh posisi tawar yang kuat dalam negosiasi.
Situasi terbaru dipengaruhi putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat yang membatalkan kebijakan tarif Presiden Donald Trump. Putusan ini dinilai memperkuat posisi tawar China, meski Beijing disebut akan tetap bersikap hati-hati dalam merespons perkembangan tersebut.
Direktur Program China di Stimson Center, Sun Yun, menilai keputusan pengadilan itu dapat memberi keuntungan psikologis bagi China dalam perundingan. “Hal ini akan memberikan dorongan moral bagi China dalam negosiasi dengan tim Trump,” ujarnya, seperti dikutip AP News, Selasa (24/2).
Di tengah dinamika itu, Gedung Putih mengonfirmasi bahwa Trump dijadwalkan mengunjungi China pada 31 Maret hingga 2 April untuk bertemu Presiden Xi Jinping. Pertemuan tersebut dipandang menjadi momen penting untuk menjaga stabilitas hubungan dagang kedua negara.
Penasihat riset senior International Crisis Group, Wyne Ali, memprediksi Xi tidak akan memanfaatkan putusan pengadilan untuk menekan Trump secara agresif. Menurutnya, Xi kemungkinan akan lebih fokus memperkuat hubungan personal demi mempertahankan gencatan senjata perdagangan.

