BERITA TERKINI
Rangkuman Kabar Dunia Sepekan: Rusia Kritik IOC, Sanksi FIFA ke Malaysia, hingga Perampokan Museum Louvre

Rangkuman Kabar Dunia Sepekan: Rusia Kritik IOC, Sanksi FIFA ke Malaysia, hingga Perampokan Museum Louvre

Sejumlah peristiwa internasional mewarnai sepekan terakhir, mulai dari polemik di ranah olahraga global, isu proyek infrastruktur, hingga kasus kriminal yang mengguncang dunia seni. Berikut rangkuman kabar dunia edisi Senin (20/10/2025) hingga Minggu (26/10/2025).

Rusia sebut IOC terapkan standar ganda

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menuding Komite Olimpiade Internasional (IOC) bersikap munafik dan menerapkan standar ganda terkait kebijakan terhadap Rusia dan Indonesia. Pernyataan itu disampaikan setelah IOC merekomendasikan agar federasi olahraga internasional tidak menggelar kompetisi di Indonesia, menyusul penolakan Jakarta menerbitkan visa bagi atlet Israel.

“Tentu saja ada standar ganda,” kata Peskov kepada saluran olahraga Rusia Match TV, sebagaimana dikutip Antara, Kamis (23/10/2025).

Sanksi FIFA ke Malaysia diduga dipicu laporan individu dari Vietnam

Mantan Presiden Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) sekaligus pemilik klub Johor Darul Ta’zim (JDT), Tunku Mahkota Johor (TMJ) Tunku Ismail Sultan Ibrahim, menyatakan laporan yang memicu penyelidikan FIFA terhadap tujuh pemain naturalisasi Malaysia diduga berasal dari individu di Vietnam, bukan dari Federasi Sepak Bola Vietnam (VFF).

“Seseorang dari Vietnam, tapi bukan dari federasi sepak bolanya. Jadi kami tidak tahu siapa orang itu. Bukan sekretaris jenderal VFF, bukan juga presidennya. Itu yang saya dengar,” ujar TMJ dalam konferensi pers, dikutip dari Bernama, Sabtu (25/10/2025).

Proyek kereta China di Kenya disorot: jalur mangkrak dan utang membengkak

Di Kenya, proyek Standard Gauge Railway (SGR) kembali menjadi sorotan. Proyek yang diluncurkan pada 31 Mei 2017 itu sempat dipromosikan sebagai simbol modernitas dan fondasi transformasi Kenya menuju negara industri berpendapatan menengah.

SGR dirancang untuk menghubungkan pelabuhan Mombasa dan ibu kota Nairobi hingga ke Uganda. Namun, laporan menyoroti kondisi jalur yang disebut mangkrak dan beban utang yang telanjur membengkak.

CEO Telegram sindir Pemerintah Perancis usai pencurian di Louvre

Pendiri sekaligus CEO Telegram, Pavel Durov, melontarkan sindiran terhadap Pemerintah Perancis setelah pencurian besar terjadi di Museum Louvre, Paris. Melalui unggahan di media sosial X, Durov bahkan menyatakan niat untuk membeli kembali perhiasan mahkota yang dicuri dan menyumbangkannya ke Museum Louvre Abu Dhabi.

“Menyenangkan jika membeli perhiasan yang dicuri itu dan menyumbangkannya kembali ke Louvre. Maksud saya, Louvre Abu Dhabi, tentu saja—tak ada yang bisa mencuri dari Louvre Abu Dhabi,” tulis Durov, Selasa (21/10/2025).

China redam kekhawatiran Indonesia terkait pembengkakan utang Whoosh

Pemerintah China berupaya meredam kekhawatiran terkait beban utang dan pembengkakan biaya proyek kereta cepat Jakarta–Bandung (Whoosh). Dalam pernyataan resmi Senin (20/10/2025), juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menegaskan proyek tersebut tetap memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi Indonesia meski menghadapi tekanan finansial.

Guo menyebut, sejak dioperasikan, Whoosh dinilai mempertahankan operasi yang aman dan tertib, serta telah melayani lebih dari 11,71 juta penumpang dengan arus penumpang yang disebut terus meningkat.

Perampokan di Museum Louvre terjadi kurang dari tujuh menit

Museum Louvre di Paris ditutup sementara pada Minggu (19/10/2025) setelah aksi perampokan besar-besaran yang menargetkan koleksi permata mahkota Perancis. Polisi menyatakan pencurian berlangsung sangat cepat, hanya dalam hitungan menit.

Laporan menyebut kronologi peristiwa itu menjadi perhatian luas karena terjadi di salah satu museum paling terkenal di dunia.

Kerugian perhiasan mahkota ditaksir Rp 1,7 triliun, direktur diperiksa

Jaksa Paris Laure Beccuau menyatakan nilai perhiasan kerajaan yang dicuri dari Museum Louvre mencapai 102 juta dolar AS atau sekitar Rp 1,7 triliun. Pernyataan itu disampaikan pada Selasa (21/10/2025) di tengah sorotan terhadap sistem keamanan museum.

Direktur Louvre, Laurence des Cars, disebut belum memberikan pernyataan publik sejak perampokan siang bolong tersebut, sementara proses pemeriksaan terkait kasus masih berlangsung.