Ketua Parlemen Iran Mohammad-Baqer Qalibaf mengatakan Iran mendorong jalur diplomasi sembari memperkuat kemampuan pertahanan secara bersamaan dalam menghadapi pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh.
Dalam sidang Parlemen pada Senin (9/2), Qalibaf menyatakan diplomasi dan pertahanan dipandang sebagai dua hal yang saling terkait dan perlu dijalankan secara terkoordinasi. Ia menyebut langkah tersebut dilakukan dengan “kecerdasan yang maksimal” serta mengikuti perintah dan arahan Pemimpin Revolusi.
Qalibaf juga menyampaikan bahwa Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mayor Jenderal Abdolrahim Mousavi menghadiri sidang tertutup Parlemen pada hari yang sama. Menurutnya, pertemuan itu membahas isu-isu terkait putaran terbaru negosiasi nuklir tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat. “Itu adalah sidang yang sangat baik,” kata Qalibaf.
Delegasi Iran dan Amerika Serikat, masing-masing dipimpin Araghchi dan Utusan Khusus AS Steve Witkoff, melanjutkan pembicaraan nuklir di Muscat, Oman, pada Jumat (6/2). Perundingan tersebut berlangsung delapan bulan setelah perang Israel melawan Iran pada Juni lalu. Dalam proses mediasi, Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr Al Busaidi disebut bolak-balik menyampaikan pesan di antara kedua pihak, dengan format pembicaraan tetap dilakukan secara tidak langsung.
Usai pembicaraan yang dimediasi Oman, Araghchi menilai putaran baru negosiasi nuklir tidak langsung dengan Amerika Serikat sebagai “awal yang baik” dan menyatakan proses itu dapat dilanjutkan. Ia menambahkan, keputusan mengenai langkah berikutnya akan ditentukan setelah konsultasi dengan ibu kota masing-masing negara.
Negosiasi berlangsung di tengah situasi ketika Amerika Serikat mengerahkan kekuatan udara dan angkatan laut ke kawasan serta mengancam akan menyerang Republik Islam kembali. Iran menyatakan tidak akan meninggalkan diplomasi, namun siap menolak setiap tindakan agresi.
Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Pertahanan Iran Brigadir Jenderal Reza Talaei-Nik mengatakan pada Senin bahwa negaranya saat ini menghentikan pengungkapan capaian pertahanan. Ia menjelaskan capaian terbaru telah bergabung dengan unit pertahanan negara dan digunakan dalam operasi ofensif maupun defensif, tetapi tidak akan dipamerkan dalam kondisi saat ini karena “pertimbangan keamanan dan untuk menjaga unsur kejutan.”

