Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Sofyano Zakaria menilai konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran berpotensi berdampak pada ketahanan energi Indonesia. Salah satu risikonya adalah gangguan pasokan minyak dan elpiji impor yang selama ini melewati jalur strategis Selat Hormuz.
Menurut Sofyano, ketegangan geopolitik di Timur Tengah perlu menjadi perhatian serius karena Indonesia masih bergantung pada impor minyak dan elpiji. Jika jalur distribusi energi global terganggu, dampaknya dapat dirasakan langsung di dalam negeri, termasuk terhadap stabilitas pasokan energi nasional.
Dalam konteks tersebut, ia menilai pemikiran Presiden Prabowo Subianto yang mendorong percepatan program elektrifikasi sebagai political will yang positif dan patut didukung. Namun, ia menekankan implementasinya harus dirancang secara matang dan komprehensif agar benar-benar efektif.
Sofyano menyebut kapasitas produksi listrik Indonesia saat ini relatif melimpah, bahkan di sejumlah wilayah mendekati kondisi kelebihan pasokan. Karena itu, program elektrifikasi dinilai perlu diarahkan untuk memanfaatkan ketersediaan listrik secara lebih optimal.
Ia menyarankan elektrifikasi dilakukan bertahap, terutama untuk menggantikan penggunaan energi yang masih bergantung pada impor. Salah satu contoh yang ia sampaikan ialah mendorong penggunaan kompor listrik sebagai pengganti kompor elpiji di rumah tangga.
Selain itu, Sofyano menilai ketersediaan sumber daya batubara domestik dapat menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan energi nasional di tengah potensi gangguan pasokan energi global.
Di sisi lain, ia mengkritisi rencana pemberian insentif bagi masyarakat untuk mengonversi sepeda motor berbahan bakar minyak menjadi sepeda motor listrik. Menurutnya, kebijakan tersebut masih kurang tepat karena motor berusia tua dan bernilai ekonomi rendah dinilai tidak rasional jika harus dikonversi dengan biaya yang cukup besar.
Sofyano menambahkan biaya konversi motor ke listrik masih relatif mahal sehingga masyarakat tetap harus mengeluarkan dana besar meskipun memperoleh insentif. Ia menyarankan pemerintah lebih fokus memberikan insentif berupa diskon harga pembelian sepeda motor listrik baru agar masyarakat lebih tertarik beralih tanpa terbebani ongkos konversi.
Ia menegaskan, dorongan elektrifikasi nasional sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai respons terhadap konflik global, melainkan menjadi strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan dan kedaulatan energi Indonesia.

