Pusat Kolaborasi Riset (PUKAT) Maluku Utara berpartisipasi dalam Asia Partners Forum (APF) 2026 yang digelar Blue Ventures (BV) pada 28–29 April 2026 di Movenpick Resort & Spa, Jimbaran, Bali. Forum ini menjadi ajang jejaring bagi mitra Blue Ventures di kawasan Asia-Pasifik untuk berbagi pengalaman dan menyusun peluang kolaborasi dalam pengelolaan pesisir serta perikanan berbasis masyarakat.
Berdasarkan daftar peserta APF 2026, terdapat empat lembaga lokal dari Maluku Utara yang tercatat sebagai mitra BV, yakni Yayasan PUKAT Maluku Utara, Yayasan Aksi Kelola Ekosistem (AKE), LpM PeDULi, dan Network Ekologi Lautra Nusa (NetraNusa). Kehadiran empat lembaga ini menegaskan posisi Maluku Utara sebagai salah satu wilayah penting dalam agenda konservasi pesisir dan perikanan berbasis masyarakat di Indonesia.
PUKAT Maluku Utara dalam forum tersebut diwakili Muhammad Assagaf, Direktur Proyek lembaga itu. Keikutsertaan PUKAT disebut sebagai bagian dari komitmen mendukung pengelolaan sumber daya pesisir yang berkelanjutan, berbasis riset, dan berpihak pada masyarakat nelayan kecil di wilayah timur Indonesia.
Secara keseluruhan, APF 2026 diikuti 43 organisasi mitra Blue Ventures di Asia-Pasifik, yang terdiri atas 35 organisasi di Indonesia, tujuh di Filipina, dan satu di Timor-Leste. Dalam forum itu, Head of Partnership Asia-Pacific Blue Ventures, Hanifa Miranda, menekankan pentingnya kehadiran mitra untuk memperkuat ekosistem kolaborasi antara organisasi lokal, pemerintah, dan komunitas internasional dalam isu konservasi kelautan.
APF 2026 dirancang dengan tiga tujuan utama, yakni memperkuat jaringan mitra regional, mendorong pertukaran kisah keberhasilan dan tantangan di lapangan, serta mengembangkan gagasan kolaboratif baru. Pada hari pertama, rangkaian acara dibuka dengan sambutan dari Blue Ventures dan Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, kemudian dilanjutkan diskusi mengenai strategi nasional pengelolaan kelautan, komitmen pendanaan perikanan skala kecil, ketahanan pangan, dan pengentasan kemiskinan pesisir.
Sesi hari pertama turut menghadirkan perwakilan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Badan Pengelolaan Dana Lingkungan Hidup, Tropical Forest & Coral Reefs Conservation Act (TFCCA), Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku, serta lembaga konservasi internasional seperti SEAFDEC, Atsea Program, dan WWF-Coral Triangle Program.
Hari kedua diisi panel para mitra yang membahas cerita sukses, tantangan, dan pembelajaran dari implementasi pilar program Blue Ventures. Topik yang dibahas mencakup Pengelolaan Perikanan Berbasis Masyarakat (CBFM), pengamanan hak, advokasi, keamanan pangan, inklusi keuangan, hingga pemanfaatan data science dalam pengambilan keputusan pengelolaan sumber daya pesisir.
PUKAT Maluku Utara selama ini mengedepankan pendekatan riset kolaboratif untuk menghasilkan data dan pengetahuan yang mendukung pengelolaan ekosistem pesisir di Maluku Utara secara berbasis bukti. Wilayah tersebut disebut memiliki potensi laut besar, namun juga menghadapi tekanan seperti eksploitasi berlebihan, degradasi habitat pesisir, serta dampak perubahan iklim.
Keikutsertaan PUKAT dalam APF 2026 dinilai membuka peluang memperluas jejaring kolaborasi lintas negara, menyerap praktik dari mitra di Indonesia, Filipina, dan Timor-Leste, sekaligus memperkenalkan tantangan dan potensi Maluku Utara ke komunitas konservasi regional. Kehadiran empat lembaga dari Maluku Utara dalam forum yang sama juga dipandang sebagai sinyal menguatnya gerakan pengelolaan pesisir berbasis masyarakat di kawasan tersebut.