BERITA TERKINI
Psikolog Unair: Satu dari Tujuh Remaja Alami Gangguan Mental, Asia Pasifik Menampung 60 Persen Populasi Remaja Dunia

Psikolog Unair: Satu dari Tujuh Remaja Alami Gangguan Mental, Asia Pasifik Menampung 60 Persen Populasi Remaja Dunia

Isu kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis pada remaja dinilai semakin mendesak untuk mendapat perhatian serius, terutama di lingkungan pendidikan. Psikolog Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Wiwin Hendriani, menekankan bahwa kesejahteraan dalam pendidikan bukan persoalan tambahan, melainkan bagian penting yang perlu ditangani secara menyeluruh.

Wiwin mengingatkan bahwa kegagalan penerapan program kesejahteraan atau well-being di sekolah dapat menimbulkan dampak buruk yang terasa dalam jangka panjang bagi peserta didik. Menurutnya, sekolah perlu memandang dukungan kesehatan mental sebagai aspek sentral dalam proses pendidikan.

Ia juga memaparkan data yang menunjukkan besarnya persoalan kesehatan jiwa pada remaja. Secara global, disebutkan bahwa satu dari setiap tujuh remaja mengalami gangguan kesehatan mental. Angka ini menjadi perhatian karena kawasan Asia Pasifik menampung sekitar 60 persen dari total populasi remaja di dunia.

Selain itu, Wiwin menyebut bunuh diri berada pada peringkat ketiga hingga kelima sebagai penyebab utama kematian pada kelompok usia remaja secara global. Ia menilai tantangan di Asia Tenggara tidak hanya terkait tingginya jumlah kasus, tetapi juga keterlihatan masalah serta akses penanganan.

“Kesejahteraan dalam pendidikan bukanlah isu sampingan, ini adalah isu sentral. Di Asia Tenggara, kita menghadapi tantangan besar bukan hanya soal tingginya angka kasus, tetapi juga soal keterlihatan masalah dan akses penanganan. Masih banyak stigma yang melekat di masyarakat, hal inilah yang membuat perilaku mencari bantuan atau pertolongan profesional dari kalangan remaja menjadi sangat rendah,” kata Wiwin, Selasa (12/5).

Lebih lanjut, Wiwin menilai persoalan di banyak sekolah bukan semata-mata karena minimnya jumlah program, melainkan karena desain program dan cara pelaksanaannya yang kurang tepat di lapangan. Ia menekankan pentingnya perbaikan pendekatan agar program kesejahteraan benar-benar efektif menjawab kebutuhan remaja.