Memasuki 2026, pasar saham Indonesia masih bergerak relatif hati-hati di tengah dinamika global dan domestik. Meski stabilitas ekonomi nasional dinilai terjaga, sebagian investor disebut masih menunggu momentum yang lebih kuat sebelum meningkatkan aktivitas di pasar modal.
Sejumlah faktor dinilai memengaruhi sikap tersebut, mulai dari eskalasi geopolitik di Timur Tengah hingga tantangan struktural di dalam negeri. Kondisi ini membuat pergerakan pasar keuangan Indonesia cenderung terbatas dan mendorong investor lebih selektif dalam menyusun strategi.
Chief Investment Officer Equity Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Samuel Kesuma mengatakan indikator makroekonomi Indonesia menunjukkan fondasi yang cukup kuat. Pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5 persen dengan inflasi yang terkendali. Namun, pelaksanaan pembangunan serta ketidakpastian eksternal masih memengaruhi sentimen pasar.
Samuel menilai stabilitas ekonomi tidak selalu berarti pasar modal bergerak agresif atau menawarkan peluang besar dalam jangka pendek. Volatilitas arus modal internasional, fluktuasi nilai tukar rupiah, serta meningkatnya tensi geopolitik disebut membuat investor cenderung mengambil posisi defensif.
Di sisi lain, sejumlah lembaga riset memperkirakan percepatan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 masih berpotensi moderat. Prospek ini dinilai bergantung pada kebijakan pemerintah, stimulus fiskal, serta efektivitas implementasi program-program ekonomi.
Dalam situasi tersebut, sebagian investor mulai mempertimbangkan diversifikasi ke kawasan lain yang dipandang memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi. Asia Pasifik disebut menjadi salah satu wilayah yang menarik karena menunjukkan momentum ekonomi yang cukup kuat.
Senior Portfolio Manager Asia Pacific Equities Manulife Investment Management Marco Giubin menilai kawasan Asia Pasifik memasuki 2026 dengan prospek yang lebih optimistis. Sejumlah negara di wilayah ini disebut berada dalam fase ekspansi ekonomi yang didorong pemulihan sektor manufaktur, peningkatan konsumsi, serta percepatan transformasi digital.
Dana Moneter Internasional memperkirakan kawasan Emerging dan Developing Asia tetap menunjukkan ketahanan ekonomi dengan potensi pertumbuhan sekitar 5 persen pada 2026. Sejumlah pasar saham di Asia Pasifik juga diproyeksikan menguat seiring rencana penawaran saham perdana (IPO) dan meningkatnya aktivitas pendanaan perusahaan.
Marco menyebut perkembangan tersebut menandakan Asia Pasifik memasuki fase ekspansi bisnis yang menarik bagi investor global. Korea Selatan dan Taiwan disebut terus memimpin inovasi teknologi, sementara India dan negara-negara Asia Tenggara memperluas pasar domestik yang ditopang pertumbuhan kelas menengah.
Tren relokasi manufaktur, diversifikasi rantai pasok, serta meningkatnya kebutuhan teknologi juga dinilai mendorong aliran investasi ke kawasan ini. Meski menghadapi perlambatan struktural, China disebut masih menjadi penggerak penting dalam ekosistem industri regional.
Dari sisi sektor, teknologi semikonduktor disebut menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan, seiring meningkatnya permintaan global untuk kecerdasan buatan (artificial intelligence), infrastruktur digital, dan perangkat pintar. Korea Selatan dan Taiwan disebut terus memperluas kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar global.
Selain teknologi, sektor kesehatan dan bioteknologi juga dinilai tumbuh signifikan pascapandemi. Perusahaan di Jepang, Korea Selatan, dan Singapura disebut terus mengembangkan inovasi di bidang kesehatan.
Peningkatan daya beli kelas menengah di India dan Asia Tenggara juga dinilai membuka peluang pada sektor ritel, gaya hidup, dan layanan keuangan. Kawasan Asia Pasifik turut mengalami percepatan pengembangan energi terbarukan dan infrastruktur hijau, termasuk transisi energi, penggunaan panel surya, serta pengembangan kendaraan listrik.
Head of Investment Specialist Manulife Aset Manajemen Indonesia Freddy Tedja menilai kondisi tersebut membuka peluang bagi investor Indonesia untuk memperluas strategi investasi melalui diversifikasi lintas negara. Menurutnya, diversifikasi geografis kini menjadi faktor penting dalam pengelolaan portofolio.
Freddy menjelaskan, investor tidak hanya mempertimbangkan sektor atau jenis aset, tetapi juga wilayah investasi yang memiliki potensi pertumbuhan lebih cepat. Dengan cara itu, investor dinilai dapat menjaga keseimbangan portofolio sekaligus memanfaatkan peluang global yang tidak sepenuhnya tercermin di pasar domestik.
Namun, investasi langsung di saham luar negeri kerap menghadapi tantangan bagi investor ritel, seperti akses pasar, likuiditas, regulasi, biaya transaksi, serta risiko fluktuasi mata uang. Karena itu, instrumen seperti reksa dana global dinilai dapat menjadi solusi yang lebih praktis.
Salah satu pilihan yang tersedia bagi investor Indonesia adalah Reksa Dana Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS atau MANSYAF. Produk ini menawarkan akses investasi pada saham-saham syariah di kawasan Asia Pasifik dengan pengelolaan profesional berbasis strategi pertumbuhan.
Freddy menyebut reksa dana tersebut memiliki diversifikasi lintas negara dengan fokus pada perusahaan berkualitas di berbagai sektor potensial. Produk ini juga menggunakan denominasi dolar AS yang disebut dapat memberikan perlindungan tambahan terhadap volatilitas nilai tukar rupiah.
Dengan pasar domestik yang masih mencari momentum, diversifikasi investasi ke Asia Pasifik dinilai dapat menjadi strategi yang relevan bagi investor Indonesia. Melalui instrumen investasi yang terdiversifikasi secara global, investor dapat memanfaatkan pertumbuhan ekonomi di kawasan yang lebih dinamis tanpa harus menghadapi kompleksitas investasi internasional secara langsung.

