Final Piala Dunia 2022 mempertemukan Argentina dan Prancis pada Minggu (18/12), laga yang menjadi kesempatan besar bagi Lionel Messi untuk meraih trofi yang selama ini dinantikannya. Di sisi lain, Prancis datang dengan Kylian Mbappe yang berpeluang menjadi pemain termuda yang menjuarai Piala Dunia dua kali beruntun sejak Pele melakukannya bersama Brasil.
Di tengah tensi tinggi dan taruhan besar bagi kedua tim, FIFA menunjuk wasit asal Polandia, Szymon Marciniak, untuk memimpin pertandingan puncak yang digelar di Qatar tersebut.
Marciniak lahir pada 7 Januari 1981 dan berusia 41 tahun saat ditugaskan memimpin final. Ia memulai karier di liga papan atas Polandia pada 2009, lalu terdaftar sebagai ofisial FIFA sejak 2013.
Selama Piala Dunia 2022, Marciniak sudah memimpin dua pertandingan. Ia memimpin laga fase grup Grup D antara Prancis vs Denmark yang berakhir 2-1 pada 26 November, serta pertandingan babak 16 besar Argentina vs Australia yang juga berakhir 2-1 pada 3 Desember.
Dalam dua pertandingan itu, Marciniak mengeluarkan total lima kartu kuning, tanpa kartu merah dan tanpa keputusan penalti. Penampilannya dinilai solid dalam mengawal laga-laga tersebut.
Untuk final, Marciniak akan didampingi dua asisten wasit, Pawel Sokolnicki dan Tomasz Listkiewicz. Ofisial keempat adalah Ismail Elfath dari Amerika Serikat, sementara petugas VAR adalah Tomasz Kwiatkowski dari Polandia.
Nama Marciniak juga dikenal di level sepak bola Eropa. Pada musim Liga Champions, ia memimpin laga Barcelona vs Inter yang berakhir 3-3 di Camp Nou, serta pertandingan Porto vs Atletico Madrid yang berakhir 2-1 dan berujung pada tersingkirnya Atletico dari kompetisi Eropa. Dalam laga terakhir itu, ia mengeluarkan Mehdi Taremi karena dianggap melakukan diving.
Selain itu, Marciniak pernah memimpin Piala Super 2018 antara Real Madrid dan Atletico Madrid. Ia juga bertugas di Piala Dunia 2018 dan dalam salah satu pertandingan mengeluarkan pemain Jerman, Jerome Boateng.
Hingga tahap turnamen ini, Marciniak disebut mampu memimpin pertandingan tanpa kontroversi besar. Penunjukannya untuk final pun dipandang sebagai keputusan yang tepat dari FIFA.

