BERITA TERKINI
Prof. Susanto Peringatkan Krisis Resiliensi Remaja, Dorong Pendidikan Berbenah

Prof. Susanto Peringatkan Krisis Resiliensi Remaja, Dorong Pendidikan Berbenah

JAKARTA — Prof. Dr. Susanto, MA menilai dunia tengah menghadapi ancaman serius berupa krisis ketangguhan mental (resiliensi) pada generasi muda. Menurutnya, disrupsi peradaban yang masif turut memicu meningkatnya kerentanan psikologis di kalangan remaja sekolah, dan situasi ini tidak bisa dipandang sebagai persoalan individu semata.

Pernyataan itu disampaikan Susanto dalam orasi ilmiah pengukuhan Guru Besar di Universitas PTIQ Jakarta yang digelar di UIII Depok pada 8 April 2026. Dalam orasi berjudul “Disrupsi Peradaban dan Krisis Resiliensi: Rekonstruksi Paradigma Pembelajaran Pendidikan Islam”, ia menegaskan krisis resiliensi berpotensi menjadi ancaman sistemik bagi masa depan bangsa jika tidak ditangani melalui kebijakan dan praktik pendidikan.

Dalam pemaparannya, Susanto mengutip sejumlah data yang menggambarkan kondisi kesehatan mental remaja secara global. Ia merujuk data WHO yang menyebut 1 dari 7 remaja usia 10–19 tahun mengalami masalah mental. Di Indonesia, ia menyampaikan angka 15,5 juta jiwa menghadapi tantangan kesehatan mental berdasarkan data Kementerian Kesehatan 2024. Ia juga menyebut Singapura mencatat 16,2% remaja mengalami depresi atau kecemasan, sementara di Amerika Serikat dan Inggris prevalensinya berada pada kisaran 25% hingga 31%.

Susanto menilai terdapat paradoks dalam perkembangan saat ini. “Perubahan global yang disruptif melahirkan tekanan psikologis baru. Muncul paradoks di mana kemajuan teknologi justru berbanding lurus dengan meningkatnya kerentanan mental,” ujarnya.

Ia juga mengkritisi penggunaan istilah strawberry generation yang kerap dipakai untuk melabeli kelompok usia tertentu sebagai generasi rapuh. Susanto menawarkan sudut pandang lain dengan istilah strawberry mentality, yang menurutnya lebih tepat karena merujuk pada kondisi psikologis, bukan usia. Ia menggambarkan kondisi tersebut antara lain mudah menyerah dan cepat frustrasi, kurang tahan terhadap tantangan dan tekanan, serta cenderung memilih solusi instan dan kurang mandiri.

“Bahkan individu dengan prestasi akademik tinggi sekalipun bisa memiliki strawberry mentality jika tidak tahan menghadapi tekanan,” katanya.

Jika tidak segera diintervensi melalui sistem pendidikan, Susanto memperkirakan krisis resiliensi dapat berdampak luas. Ia menyebut potensi penurunan kualitas sumber daya manusia karena rendahnya kemampuan adaptasi terhadap perubahan global, meningkatnya burnout di dunia kerja yang berimbas pada keterlibatan dan produktivitas, krisis kepemimpinan akibat lemahnya kapasitas menghadapi ketidakpastian, hingga melemahnya daya saing bangsa dalam kompetisi global.

Untuk merespons situasi tersebut, Susanto mendorong transformasi paradigma pendidikan Islam dengan menempatkan resiliensi sebagai tujuan utama. Ia menawarkan enam strategi, yakni penguatan nilai spiritual dengan menanamkan syukur, sabar, tawakal, dan ikhlas; penerapan challenge-based learning melalui tantangan terukur untuk melatih mental; problem-based learning guna meningkatkan kemampuan adaptif dan berpikir kritis; konsep productive failure agar peserta didik memahami kegagalan sebagai bagian dari proses belajar; refleksi spiritual untuk membangun kesadaran diri dan regulasi emosi; serta reformasi evaluasi yang lebih menekankan penghargaan pada proses, bukan semata hasil nilai.

Dalam bagian lain, Susanto menyoroti pentingnya rasa syukur. Ia mengutip riset Robert Emmons dari University of California yang menyebut rasa syukur berhubungan langsung dengan kesuksesan akademik dan kesehatan. Sebaliknya, ia merujuk studi dari Stanford University yang menyatakan mendengarkan keluhan selama 30 menit dapat merusak hipokampus, bagian otak yang mengatur memori dan emosi.

Susanto berharap perubahan pendekatan pendidikan tidak berhenti pada capaian output, melainkan menghasilkan dampak. Dalam jangka menengah, ia menargetkan lahirnya individu dengan pola pikir antifragile atau tangguh di bawah tekanan. Dalam jangka panjang, ia mengharapkan terbentuknya masyarakat yang resilien dan hadirnya pemimpin visioner berintegritas.

“Pendidikan adalah proyek peradaban. Generasi yang hebat tidak lahir dari air yang tenang, melainkan dari terjangan ombak dan badai,” ujarnya menutup orasi.