Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyinggung potensi dampak konflik global di Timur Tengah terhadap kondisi ekonomi Indonesia. Ia menilai perang yang melibatkan Iran dengan Israel dan Amerika Serikat dapat memicu tekanan, mulai dari kenaikan harga barang hingga pergerakan nilai tukar.
Pernyataan itu disampaikan Pramono saat menghadiri acara buka puasa bersama di Kantor Wali Kota Jakarta Barat, Kembangan, Senin (9/3/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia berbicara di hadapan Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla.
Menurut Pramono, situasi global saat ini menuntut ketahanan nasional agar tetap kuat. “Saudara-saudara sekalian, karena sekarang ini kondisi global sedang tidak baik-baik saja, kita semua harus berpikir untuk bagaimana daya tahan kita sebagai bangsa itu tetap kuat,” kata Pramono.
Ia juga menyebut, setiap kali bertemu dengan Jusuf Kalla, pembahasan yang muncul kerap berkaitan dengan dinamika global dan dampaknya terhadap Indonesia. Pramono menyoroti kenaikan harga minyak dunia yang dinilainya tinggi, serta kemungkinan Indonesia menghadapi masa-masa yang perlu dijaga bersama.
Pramono menekankan pentingnya kebersamaan dan gotong royong untuk menghadapi tekanan yang mungkin muncul akibat situasi tersebut. “Maka untuk itu, kebersamaan, gotong royong, saling mempercayai, itu termasuk menjadi kata kunci bagaimana kita sebagai bangsa besar menghadapi ini,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Pramono meminta jajaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjaga stabilitas dan meningkatkan kewaspadaan menghadapi ketidakpastian global. Ia mengingatkan, jika konflik berlangsung lama, dampaknya dapat semakin besar.
Pramono menilai perang berkepanjangan berpotensi memicu perubahan signifikan pada rantai pasok global. Kondisi itu, menurutnya, dapat mendorong kenaikan harga barang dan jasa serta memengaruhi kurs mata uang, yang pada akhirnya memberi tekanan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

