Presiden Prabowo Subianto menyatakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat menjadi salah satu motor penggerak ekonomi rakyat kecil di tengah situasi krisis global. Pernyataan itu disampaikan Prabowo pada Sabtu, 15 Maret 2026 di Jakarta, saat memberikan keterangan mengenai kondisi ekonomi nasional.
Menurut Prabowo, MBG tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, terutama anak-anak, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak ekonomi yang luas karena menggerakkan aktivitas ekonomi di tingkat lokal. Ia menilai program tersebut dapat meningkatkan konsumsi rumah tangga sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di desa-desa dan lapisan masyarakat paling bawah.
“Program makan bergizi gratis mendorong pertumbuhan ekonomi dari lapisan paling bawah,” ujar Prabowo.
Prabowo menjelaskan, pelaksanaan MBG akan menciptakan permintaan besar terhadap bahan pangan lokal. Ia menilai kondisi itu dapat menggerakkan berbagai sektor ekonomi rakyat, mulai dari petani, peternak, nelayan, hingga usaha kecil yang menjadi pemasok bahan makanan.
Ia menambahkan, ketika program makanan bergizi dijalankan secara luas, rantai ekonomi di tingkat bawah ikut bergerak. Hal tersebut dinilai penting di tengah perekonomian global yang masih menghadapi berbagai ketidakpastian.
Selain dampak ekonomi jangka pendek, Prabowo juga menyebut MBG sebagai investasi jangka panjang bagi pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Peningkatan kualitas gizi generasi muda diharapkan dapat mendukung produktivitas dan daya saing bangsa pada masa mendatang.
Meski demikian, program MBG turut memunculkan perdebatan publik karena membutuhkan anggaran negara yang besar. Sejumlah pihak menilai pemerintah perlu mengelola pembiayaan program secara hati-hati agar tidak menambah tekanan terhadap anggaran.
Dalam kajian ekonomi, program seperti MBG dapat memiliki efek pengganda (multiplier effect) terhadap ekonomi lokal. Ketika pemerintah membeli bahan makanan dalam jumlah besar untuk program sosial, permintaan terhadap produk pertanian, peternakan, dan perikanan dapat meningkat. Jika pengadaan benar-benar dilakukan dari petani dan pelaku usaha lokal, perputaran uang negara berpotensi lebih banyak terjadi di tingkat desa dan komunitas kecil.
Namun, besarnya manfaat ekonomi bagi pelaku kecil sangat bergantung pada pelaksanaan program. Jika rantai pasok lebih banyak dikuasai distributor atau perusahaan besar, dampak bagi petani kecil dapat lebih terbatas dibandingkan harapan awal.
Selain itu, MBG pada dasarnya merupakan program belanja negara, bukan investasi produktif langsung. Dampaknya lebih banyak berasal dari peningkatan konsumsi dalam jangka pendek. Agar benar-benar menjadi penggerak ekonomi rakyat, program ini dinilai perlu dihubungkan dengan kebijakan lain, seperti penguatan koperasi pangan, peningkatan produksi pertanian lokal, serta distribusi yang melibatkan usaha kecil.
Faktor lain yang menjadi perhatian adalah beban fiskal. Program MBG memerlukan dana besar setiap tahun. Jika pembiayaan tidak diimbangi peningkatan penerimaan negara atau efisiensi anggaran di pos lain, terdapat risiko bertambahnya tekanan terhadap kondisi fiskal pemerintah.
Dengan demikian, klaim bahwa MBG dapat menggerakkan ekonomi rakyat dinilai dapat benar secara konsep, tetapi keberhasilannya sangat ditentukan oleh desain kebijakan, tata kelola anggaran, serta keterlibatan langsung pelaku ekonomi kecil dalam rantai pasok program.

