Presiden RI Prabowo Subianto dijadwalkan berkunjung ke Seoul, Korea Selatan, pada 31 Maret hingga 2 April 2026 untuk menandatangani kesepakatan ekspor 16 jet tempur KF-21 Boramae. Jika kesepakatan ini terwujud, Indonesia disebut akan menjadi pembeli luar negeri pertama untuk jet tempur andalan Korea Selatan tersebut.
Dalam agenda kunjungan itu, Prabowo tidak hanya menghadiri pertemuan diplomatik. Ia juga dijadwalkan terbang ke fasilitas Korea Aerospace Industries (KAI) di Sacheon untuk menginspeksi jet tempur supersonik yang direncanakan memperkuat armada TNI Angkatan Udara.
Rencana pengadaan KF-21 sebelumnya disebut mencakup 48 unit. Namun, dengan mempertimbangkan dinamika anggaran, Indonesia memutuskan memulai akuisisi dengan 16 unit sebagai tahap awal. Jumlah tersebut setara dengan satu skuadron penuh dalam nomenklatur TNI AU.
Kesepakatan ini juga disebut mengikuti revisi kontribusi biaya proyek yang sempat berjalan alot. Indonesia kini berkomitmen pada angka 600 miliar won setelah penyesuaian transfer teknologi pada Juni 2025.
Untuk spesifikasi, pesawat yang akan dipesan diperkirakan merupakan varian Block II. Varian ini disebut memiliki kemampuan multiperan yang lebih luas dibanding versi awal, termasuk integrasi senjata udara-ke-darat serta rudal anti-kapal. Sementara itu, program uji terbang KF-21 dilaporkan rampung tanpa kecelakaan pada Januari 2026, setelah melampaui 1.600 jam terbang.
Percepatan negosiasi juga dikaitkan dengan persaingan di kawasan. Filipina dilaporkan mulai melirik KF-21, sehingga Indonesia dinilai perlu segera mengamankan posisi agar tetap menjadi prioritas dalam antrean produksi.
Langkah pengadaan ini disebut sekaligus merespons keraguan Seoul atas komitmen Indonesia, mengingat Jakarta baru saja mengamankan kontrak jet tempur Rafale dari Prancis dan KAAN dari Turki. Dengan rencana pembelian KF-21, Indonesia dinilai memperkuat postur kekuatan udaranya di Asia Tenggara.

