BERITA TERKINI
Prabowo Bertemu Putin di Rusia, Pakar Nilai Penting untuk Diversifikasi Mitra Energi

Prabowo Bertemu Putin di Rusia, Pakar Nilai Penting untuk Diversifikasi Mitra Energi

Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan kenegaraan ke Rusia dan bertemu Presiden Vladimir Putin di tengah ketidakpastian geopolitik global. Langkah ini dinilai sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional Indonesia ketika ketersediaan energi dunia dinamis dan rentan terganggu.

Guru Besar Departemen Hubungan Internasional Fisipol UGM, Nur Rachmat Yuliantoro, menilai pertemuan tersebut memiliki arti strategis. Menurutnya, situasi global yang bergejolak membuat Indonesia perlu memperluas jangkauan kerja sama internasional, terutama untuk menjaga stabilitas pasokan energi.

Rachmat juga menyinggung adanya kritik terhadap intensitas perjalanan luar negeri Prabowo di tengah kebijakan efisiensi anggaran yang dicanangkan pemerintah. Namun, ia menilai diversifikasi mitra tetap dibutuhkan agar Indonesia dapat memperkuat ketahanan energi sekaligus menjaga prinsip politik luar negeri bebas-aktif.

Di sisi lain, Rachmat menyoroti persepsi internasional yang belakangan muncul bahwa Indonesia dinilai semakin condong ke Barat. Persepsi tersebut, menurutnya, sempat memunculkan keraguan dari pihak Rusia terhadap konsistensi penerapan prinsip bebas-aktif Indonesia.

Untuk merespons dinamika itu, Rachmat menyarankan pendekatan diplomasi yang lebih cair dan pragmatis berbasis isu. Ia menilai Indonesia sebaiknya membangun interaksi dengan berbagai aktor internasional berdasarkan kepentingan konkret, bukan dalam kerangka keberpihakan struktural.

Rachmat menegaskan, kunjungan ke Moskow tidak otomatis menunjukkan pergeseran arah kebijakan luar negeri Indonesia. Ia memandang hubungan dengan Rusia lebih tepat dibaca sebagai penambahan opsi dalam portofolio energi nasional, bukan sebagai poros baru atau pengganti mitra utama yang sudah ada.

Ia juga mengingatkan pentingnya strategi keseimbangan terukur atau calibrated balancing. Strategi ini diperlukan agar kerja sama ekonomi, termasuk di sektor energi, dapat berjalan substantif tanpa memicu gesekan diplomatik dengan negara-negara Barat yang selama ini menjadi mitra lama Indonesia. Rachmat menambahkan, kerja sama terkait minyak Rusia dapat menjadi isu sensitif dan menuntut kehati-hatian karena Indonesia tetap harus memperhatikan aturan main global.