BERITA TERKINI
PMI Manufaktur Indonesia Maret 2026 Melemah, Kadin Nilai Permintaan Ekspor Tertekan

PMI Manufaktur Indonesia Maret 2026 Melemah, Kadin Nilai Permintaan Ekspor Tertekan

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Perindustrian, Saleh Husin, menilai pelemahan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Maret 2026 dipicu turunnya permintaan, terutama dari pasar ekspor.

Menurut Saleh, penurunan pesanan ekspor baru terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global yang ikut menekan kinerja industri nasional. Ia menyebut kondisi tersebut tidak hanya dipengaruhi faktor permintaan, tetapi juga tekanan biaya produksi akibat kenaikan harga energi serta gangguan rantai pasok yang masih berlangsung.

“Terjadi kombinasi antara demand shock dan cost pressure yang membuat laju ekspansi industri melambat signifikan, bahkan mendekati batas stagnasi di level 50,” ujar Saleh pada Rabu (1/4/2026).

Saleh menjelaskan, melemahnya permintaan global berdampak langsung pada industri yang berorientasi ekspor. Pada saat yang sama, kenaikan biaya produksi—khususnya energi—dinilai menekan margin perusahaan. Gangguan rantai pasok global juga disebut menambah beban pelaku industri dalam menjaga kelancaran produksi.

Ke depan, Kadin memproyeksikan PMI manufaktur Indonesia masih berpeluang bertahan di zona ekspansi, namun dengan level yang tipis dan rentan terhadap tekanan eksternal.

Saleh menegaskan, pelemahan pesanan ekspor berpotensi berdampak pada sektor padat karya, mulai dari penurunan utilisasi kapasitas produksi hingga tekanan terhadap margin perusahaan. “Bahkan tidak menutup kemungkinan terjadi penyesuaian tenaga kerja jika tekanan terus berlanjut,” katanya.

Ia menambahkan, arah pergerakan PMI manufaktur ke depan sangat bergantung pada pemulihan permintaan global, stabilitas harga energi, serta efektivitas kebijakan pemerintah dalam menjaga daya saing industri.

Kadin berharap pemerintah terus memperkuat kebijakan yang mendukung sektor industri, terutama untuk menjaga stabilitas biaya produksi dan memperluas akses pasar ekspor. Dengan langkah yang tepat, sektor manufaktur diharapkan dapat bertahan dan kembali mencatatkan ekspansi yang lebih kuat di tengah dinamika ekonomi global.