Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen mengkritik keras Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyusul pernyataannya yang mempertanyakan peran pasukan sekutu NATO dalam konflik di Afghanistan. Frederiksen menilai tidak dapat diterima apabila seorang pemimpin negara sekutu meragukan dedikasi dan keberanian prajurit yang bertugas di garis depan.
Ketegangan diplomatik ini mencuat setelah Trump, dalam wawancara dengan Fox Business beberapa waktu lalu, menyatakan bahwa Amerika Serikat sebenarnya tidak memerlukan bantuan militer dari negara lain. Dalam pernyataan itu, Trump juga menuding pasukan koalisi non-AS berada di posisi belakang dan menjauh dari area pertempuran paling berbahaya selama perang di Afghanistan.
Menanggapi klaim tersebut, Frederiksen menekankan bahwa Denmark termasuk negara NATO yang menanggung beban kehilangan besar. Ia merujuk pada statistik militer yang menunjukkan Denmark mencatat jumlah korban jiwa per kapita tertinggi dibandingkan banyak negara anggota lainnya, yang menurutnya menjadi bukti keterlibatan langsung prajurit Denmark dalam kontak senjata mematikan.
Kecaman juga datang dari Inggris. Perdana Menteri Keir Starmer menilai pernyataan Trump sebagai sesuatu yang menghina dan menjijikkan bagi para veteran. Starmer mendesak agar Trump menyampaikan permintaan maaf secara terbuka, dengan alasan pernyataan tersebut dinilai keliru secara faktual dan mencederai penghormatan kepada keluarga prajurit yang gugur.

