Pasar data center di Asia Pasifik (APAC) terus berekspansi. Laporan Cushman & Wakefield APAC Data Centre Semester II 2025 Update yang dipublikasikan Senin (11/5/2026) mencatat total pipeline pengembangan kawasan mencapai rekor 19,4 gigawatt (GW) pada 2025.
Pipeline tersebut terdiri atas 3,7 GW yang sedang dalam tahap konstruksi dan 15,7 GW dalam tahap perencanaan. Data ini menunjukkan aktivitas pengembangan yang berkelanjutan di berbagai pasar APAC.
Asia Tenggara mencatat porsi terbesar dari kapasitas yang sedang dibangun, yakni 31%. Sejumlah pasar, termasuk Malaysia, Thailand, dan Indonesia, disebut berkontribusi terhadap pipeline pengembangan di kawasan ini.
Di Asia Tenggara, Indonesia menjadi bagian dari pertumbuhan regional dengan aktivitas yang terkonsentrasi di Jakarta dan sekitarnya. Kapasitas operasional data center di pasar ini tercatat sebesar 322 megawatt (MW), dengan tambahan 186 MW yang sedang dibangun serta 901 MW lainnya dalam tahap perencanaan.
Laporan tersebut juga menyebut para operator telah mengakuisisi landbank yang berpotensi menambah lebih dari 3,9 GW kapasitas di Indonesia. Dari sisi permintaan, tingkat kekosongan (vacancy) colocation di Greater Jakarta menurun menjadi 24,9% pada akhir 2025, dibandingkan sekitar 36% pada 2024, yang mencerminkan peningkatan permintaan.
Andrew Green, Head of Data Centre Group Asia Pacific, menyatakan wilayah Jabodetabek terus memperkuat posisinya sebagai salah satu pasar data center dengan pertumbuhan tercepat di APAC. Ia menyebut kapasitas operasional diproyeksikan meningkat hingga 4,4 kali lipat pada 2030.
Menurut Green, lebih dari satu gigawatt kapasitas berada dalam pipeline pengembangan hingga 2030, mencerminkan permintaan yang berkelanjutan dari hyperscaler dan perusahaan. Ia juga menilai Greater Jakarta termasuk sedikit pasar yang mampu menarik investasi dari hyperscaler Amerika dan Tiongkok, sehingga memperkuat posisinya sebagai hub data center utama di Asia Tenggara.
Secara regional, beban kerja AI dan cloud diidentifikasi sebagai pendorong utama pasokan baru. Faktor tersebut membentuk prioritas pengembangan menuju lokasi dengan kesiapan daya serta infrastruktur berkapasitas tinggi, sekaligus mempercepat timeline pengembangan di sejumlah pasar.
Di saat yang sama, pemerintah di kawasan disebut terus menyelaraskan kerangka kebijakan dengan pengembangan infrastruktur digital. Ketersediaan daya, komitmen keberlanjutan, dan pertimbangan regulasi tetap menjadi faktor kunci dalam pemilihan lokasi pengembangan data center.