BERITA TERKINI
Piala Dunia 2026 Disorot di Tengah Ketegangan Geopolitik, Netralitas Olahraga Dipertanyakan

Piala Dunia 2026 Disorot di Tengah Ketegangan Geopolitik, Netralitas Olahraga Dipertanyakan

Surabaya—Piala Dunia FIFA 2026 digelar di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Situasi ini kembali memunculkan perdebatan lama mengenai sejauh mana olahraga dapat benar-benar netral ketika konflik politik global menguat.

Pengamat sepak bola Rojil Bayu Aji menilai sepak bola, termasuk ajang sebesar Piala Dunia, tidak pernah sepenuhnya terlepas dari dinamika politik internasional. Meski kerap diposisikan sebagai simbol persatuan, ia menyebut realitas di lapangan menunjukkan adanya tarik-menarik kepentingan.

“Piala dunia yang berlangsung di tengah ketegangan konflik Timur Tengah antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat menunjukkan bahwa olahraga global seperti sepak bola tidak pernah benar-benar netral dari konteks politik. Sepak bola dan piala dunia seringkali menjadi simbol persatuan atau ruang netral yang melampaui politik, memberikan hiburan dan harapan di tengah situasi krisis,” ujarnya.

Rojil menegaskan, secara regulasi FIFA mewajibkan tuan rumah menjamin keamanan seluruh peserta tanpa diskriminasi. Namun, ia menilai isu keamanan yang dikaitkan dengan salah satu negara peserta berpotensi memicu polemik baru.

“FIFA memiliki aturan bahwa tuan rumah wajib menjamin keamanan seluruh peserta tanpa adanya diskriminasi. Jadi sangat disayangkan apabila Trump menggunakan isu keamanan terhadap Iran dalam Piala Dunia 2026 kali ini,” katanya.

Ia juga menyoroti adanya persepsi standar ganda dalam penerapan aturan tersebut. Rojil membandingkan dengan kasus Indonesia yang sebelumnya kehilangan status tuan rumah ajang kelompok umur setelah adanya penolakan terhadap salah satu peserta.

“Banyak pihak yang menilai ada standar ganda, Indonesia langsung kehilangan status tuan rumah U-20 karena menolak satu negara peserta. Nah ini menjadi ujian bahwasannya publik kini menunggu apakah FIFA akan berani mengambil tindakan tegas yang sama terhadap Amerika Serikat jika diskriminasi dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap Iran,” ujarnya.

Menurut Rojil, kondisi tersebut membuat Piala Dunia tidak hanya menjadi ajang olahraga, tetapi juga refleksi dari dinamika politik global yang sedang berlangsung. “Jadi piala dunia dalam kondisi seperti ini bukan hanya soal olahraga semata, melainkan cermin tarik menarik antara idealisme sportivitas dan realitas politik global yang terjadi di saat ini,” ucapnya.