BERITA TERKINI
Perusahaan di Asia Sesuaikan Strategi Asuransi Kesehatan di Tengah Kenaikan Biaya Medis 2026

Perusahaan di Asia Sesuaikan Strategi Asuransi Kesehatan di Tengah Kenaikan Biaya Medis 2026

Perusahaan-perusahaan di Asia meninjau kembali strategi asuransi kesehatan karyawan seiring kenaikan biaya medis yang diperkirakan berlanjut sepanjang 2026. Kondisi ini menambah tekanan pada program kesehatan yang disponsori perusahaan karena biaya medis di kawasan dinilai tetap berada di atas inflasi umum.

Dalam temuan Asia Employee Health Infographic and Insights 2026, bagian dari laporan Changing Face of Global Employee Health oleh Howden Employee Benefits, sedikit lebih dari separuh perusahaan di Asia—51%—memperkirakan peningkatan biaya medis yang signifikan pada tahun ini. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 41%.

Merespons tren tersebut, 50% perusahaan dilaporkan telah meningkatkan pembagian biaya dalam 12 bulan terakhir. Selain itu, banyak perusahaan melakukan peninjauan desain rencana, memperluas manfaat fleksibel, serta memberi fokus lebih besar pada perawatan pencegahan untuk membantu mengelola biaya klaim.

Dari sisi pendorong biaya, perusahaan asuransi di Asia memperkirakan kanker, penyakit kardiovaskular, kondisi muskuloskeletal, serta diabetes atau kondisi metabolik lainnya menjadi faktor utama yang mendorong biaya rencana medis pada 2026. Perusahaan juga menempatkan kesehatan mental, penyakit kardiovaskular, dan hipertensi sebagai tekanan biaya yang signifikan. Di saat yang sama, kondisi terkait obesitas disebut semakin masuk dalam agenda risiko, termasuk dampak obat GLP-1 seperti Ozempic terhadap klaim.

Laporan tersebut juga mencatat pola pemanfaatan layanan kesehatan. Dalam setahun terakhir, 43% karyawan di Asia menyatakan hanya menggunakan layanan kesehatan swasta untuk perawatan mereka yang paling serius. Sementara itu, 54% mengatakan asuransi swasta yang disediakan perusahaan menanggung seluruh biaya perawatan tersebut.

Manfaat kesehatan tetap berkaitan erat dengan retensi tenaga kerja. Sebanyak 48% karyawan di Asia menyebut manfaat kesehatan memengaruhi keputusan mereka saat mencari pekerjaan baru. Sekitar 70% menyatakan lebih cenderung bertahan lebih lama pada perusahaan yang menawarkan tunjangan kesehatan yang baik, dibandingkan 60% secara global.

Kesehatan mental juga diidentifikasi sebagai salah satu pendorong biaya utama untuk rencana kesehatan perusahaan. Dalam 12 bulan terakhir, 38% karyawan mencari perawatan kesehatan mental terutama melalui pengobatan atau terapi kelompok, dan 28% menggunakan tunjangan kesehatan karyawan atau asuransi medis untuk mengakses dukungan tersebut. Perusahaan merespons dengan menambahkan layanan seperti Program Bantuan Karyawan, dukungan rekan kerja, dan platform kesehatan mental digital.

Meski demikian, masih terdapat hambatan dalam pemanfaatan layanan kesehatan mental yang disediakan perusahaan. Sebanyak 18% karyawan menyatakan tidak nyaman menggunakan layanan tersebut karena kekhawatiran terkait kerahasiaan, dampak terhadap karier, dan stigma.

Selain isu biaya dan manfaat, laporan itu menyoroti peran kecerdasan buatan (AI) yang semakin berkembang dalam layanan kesehatan. Sekitar 64% karyawan menyatakan akan mempercayai AI dalam perjalanan perawatan kesehatan mereka, dan 38% mengaku telah mengalami penggunaannya. Ke depan, 45% pemberi kerja menyatakan menginginkan adopsi perawatan berbasis AI yang lebih luas, terutama untuk pemrosesan dan persetujuan klaim, analitik prediktif untuk klaim berbiaya tinggi, serta diagnosis dan skrining.