Pertumbuhan ekonomi Filipina melambat ke level terendah dalam lima tahun terakhir pada kuartal pertama 2026. Otoritas Statistik Filipina mencatat Produk Domestik Bruto (PDB) hanya tumbuh 2,8 persen pada periode Januari hingga Maret.
Capaian tersebut turun tajam dibandingkan kuartal pertama 2025 yang mencapai 5,4 persen, serta lebih rendah daripada kuartal terakhir 2025 sebesar 3,0 persen. Kepala Statistik Nasional Filipina, Dennis Mapa, menyatakan bahwa di luar periode pandemi, pertumbuhan pada kuartal pertama ini merupakan yang terendah sejak tiga bulan pertama 2021.
Sekretaris Perencanaan Ekonomi Filipina, Arsenio Balisacan, mengakui kinerja ekonomi negaranya saat ini tertinggal dibandingkan sejumlah negara di kawasan. Dalam konferensi pers pada Kamis (7/5/2026), ia mengatakan pertumbuhan Filipina berada di belakang Vietnam, Indonesia, dan China, di antara negara lainnya.
Menurut Balisacan, perlambatan dipengaruhi beberapa faktor. Salah satunya dampak konflik di Timur Tengah. Selain itu, Filipina juga diguncang skandal korupsi terkait proyek fiktif pengendalian banjir yang disebut merugikan negara hingga miliaran dollar AS. Kasus tersebut memicu gelombang protes dan serangkaian penangkapan di berbagai wilayah sepanjang tahun ini.
Hambatan lain datang dari keterlambatan persetujuan anggaran nasional yang berdampak pada tertundanya realisasi proyek-proyek infrastruktur penting. Pada saat yang sama, tekanan inflasi ikut memperburuk situasi. Inflasi pada kuartal tersebut mencapai 7,2 persen, tertinggi dalam tiga tahun, dan disebut Balisacan sebagai faktor utama yang menekan pertumbuhan PDB.
Balisacan menegaskan pentingnya penanganan korupsi secara tegas dan transparan untuk memulihkan kepercayaan dunia usaha, investor, dan konsumen.
Merespons perkembangan ini, pemerintah Filipina berencana meninjau ulang target ekonomi. Tim manajer ekonomi dijadwalkan bertemu pekan depan untuk mengevaluasi sasaran pertumbuhan. Sebelumnya, pada Desember 2025, pemerintah telah menurunkan target pertumbuhan PDB 2026 dari kisaran 6–7 persen menjadi 5–6 persen. Dengan kondisi terkini, target tersebut disebut berpeluang kembali dipangkas seiring tingginya ketidakpastian global.