Seorang tokoh yang terlibat dalam pertukaran sastra Taiwan-Vietnam menyatakan harapannya agar pemahaman bersama kedua pihak dapat diperkuat melalui “diplomasi antar masyarakat”. Pernyataan itu disampaikan seiring peringatan Hari Puisi Taiwan pada 14 Maret, yang tahun ini diisi dengan acara untuk mendorong dialog sastra.
Acara tersebut digelar di Universitas Nasional Cheng Kung (NCKU) di Tainan. Kegiatan ini juga menjadi momen untuk mengenang Ong Iok-lim, penyair sekaligus jaksa kelahiran Tainan yang terbunuh dalam Insiden 228 pada 1947.
Pertemuan itu menghadirkan lebih dari selusin penulis dari Taiwan serta lima cendekiawan Vietnam. Mereka membahas sejarah dan budaya Taiwan, sekaligus menggelar pembacaan puisi dalam bahasa Hokkien Taiwan dan bahasa Vietnam.
Direktur Pusat Studi Vietnam di NCKU, Chiung Wi-vun, mengatakan interaksi semacam ini membantu mempererat hubungan di luar jalur resmi. Ia menilai diplomasi non-pemerintah penting karena pertukaran resmi kerap menghadapi tekanan dari Tiongkok, sementara kegiatan budaya di tingkat masyarakat memungkinkan peserta berbicara tentang Taiwan dengan lebih bebas.
Chiung juga menjelaskan bahwa ia turut mendirikan Asosiasi Pertukaran Budaya Taiwan dan Vietnam pada 2009 setelah melihat pertukaran kedua pihak lebih banyak berfokus pada perdagangan, dengan peluang yang terbatas untuk keterlibatan budaya yang lebih mendalam.
Sejak itu, penulis, cendekiawan, dan mahasiswa disebut telah terlibat dalam kunjungan, seminar, dan lokakarya. Chiung mengatakan karya asli Taiwan juga diterjemahkan ke dalam bahasa Vietnam, sementara sastra Vietnam modern dialihbahasakan ke dalam bahasa Mandarin dan Hokkien Taiwan.
Pertukaran tersebut turut menarik perhatian di Vietnam. Chiung mencontohkan penyair Trần Đăng Khoa yang menulis tentang pengalamannya di Taiwan, yang dinilai membantu memperkenalkan pulau itu kepada khalayak Vietnam yang lebih luas.
Salah satu tamu penulis pada acara tahun ini, Kiều Bích Hậu dari Asosiasi Penulis Vietnam, mengatakan bahwa mempelajari periode Teror Putih di Taiwan—era represi politik dari 1949 hingga 1992—mengingatkannya pada kesamaan dengan sejarah kolonial Vietnam.
Kiều juga menyinggung kisah penyair Lin Tsung-yuan yang tetap menulis dalam bahasa Hokkien Taiwan meski ada pembatasan pada era otoriter. Ia mengatakan menulis puisi berjudul “Teror Putih” sebagai penghormatan.
Menurut Kiều, sebelumnya ia hanya mengenal Taiwan sebagai tujuan wisata. Namun melalui pertukaran sastra, ia merasa lebih memahami sejarah Taiwan serta perjuangan rakyatnya untuk demokrasi dan kebebasan.

