Permintaan global terhadap minyak Rusia dilaporkan meningkat tajam di tengah ketidakpastian pasar energi dunia. Kenaikan ini terjadi seiring gangguan pasokan, lonjakan harga minyak global, serta perubahan kebijakan energi di sejumlah negara, termasuk di Asia Tenggara.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan permintaan terhadap minyak Rusia saat ini sangat tinggi. Menurutnya, kondisi pasar energi global mendorong peningkatan kebutuhan terhadap pasokan alternatif. “Permintaan tinggi, permintaan akan arah alternatif juga tinggi, jadi, tentu saja, mungkin akan tiba saatnya ketika permintaan tambahan akan sulit dipenuhi,” kata Peskov, dikutip dari Anadolu Agency, Kamis (26/3/2026).
Peskov juga menilai Rusia dapat menghadapi tantangan dalam memenuhi permintaan tambahan apabila tren tersebut berlanjut.
Gangguan pasokan dan kenaikan harga energi
Lonjakan permintaan terhadap minyak Rusia terjadi di tengah gangguan pasokan energi global yang dipicu konflik geopolitik. Ketegangan di Timur Tengah serta dampak lanjutan perang Rusia dan Ukraina disebut menjadi faktor utama yang memengaruhi volatilitas harga minyak dunia.
Sejumlah laporan juga menyebut infrastruktur ekspor minyak Rusia mengalami gangguan signifikan. Serangan drone, sengketa jalur pipa, dan penyitaan kapal tanker sempat menghambat sebagian kapasitas ekspor. Meski demikian, tingginya harga minyak global dinilai tetap membuat minyak Rusia menarik bagi pembeli internasional, terutama karena Moskwa kerap menawarkan harga diskon dibandingkan patokan pasar dunia.
Uni Eropa menunda usulan larangan permanen impor
Di tengah dinamika tersebut, Uni Eropa menunda pengajuan proposal hukum untuk melarang impor minyak Rusia secara permanen. Proposal yang semula dijadwalkan pada April ditunda karena perkembangan geopolitik terbaru.
Juru bicara energi Komisi Uni Eropa Anna-Kaisa Itkonen menegaskan rencana tersebut tetap akan diajukan. “Usulan itu akan diajukan,” ujarnya, dikutip dari The Moscow Times.
Presiden Komisi Uni Eropa Ursula von der Leyen juga menilai meninggalkan strategi pengurangan ketergantungan energi terhadap Rusia sebagai “sebuah kesalahan strategis.” Uni Eropa sebelumnya menargetkan penghentian impor minyak Rusia secara bertahap paling lambat pada 2027.
Namun, beberapa negara anggota seperti Hungaria masih meningkatkan penggunaan minyak Rusia meski terdapat kebijakan pengurangan impor di tingkat blok. Deutsche Welle melaporkan Hungaria tetap mengandalkan pasokan minyak Rusia melalui jalur pipa Druzhba sebagai bagian dari strategi menjaga keamanan energi domestik.
Asia Tenggara mulai mempertimbangkan minyak Rusia
Di luar Eropa, sejumlah negara di Asia Tenggara mulai mempertimbangkan atau meningkatkan pembelian minyak Rusia di tengah tekanan harga energi.
Di Indonesia, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membuka peluang pengalihan impor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah ke Rusia apabila terdapat pelonggaran sanksi global terhadap Moskwa. Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan keputusan impor sepenuhnya merupakan pertimbangan bisnis PT Pertamina (Persero).
“Itu kan keputusan bisnis itu nanti sama Pertamina. Jadi mana yang lebih membutuhkan, sepanjang ada relaksasi ya tentu kita akan memanfaatkan itu prosesnya,” ujar Yuliot di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (13/3/2026).
Meski demikian, ia menegaskan pemerintah belum melakukan kajian khusus terkait rencana impor minyak dari Rusia. “Belum ada (kajian),” kata dia.
Sebelumnya, Indonesia memutuskan mengalihkan impor minyak mentah dari Timur Tengah ke Amerika Serikat seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan tersebut.
Pelonggaran sanksi dan perubahan arus perdagangan
Di tengah ketidakpastian pasar energi, pemerintah Amerika Serikat melonggarkan sebagian sanksi terhadap Rusia. Departemen Keuangan AS mengeluarkan lisensi umum baru yang mengizinkan transaksi terkait minyak Rusia yang sudah berada dalam perjalanan laut.
Kebijakan ini dinilai berpotensi memengaruhi arus perdagangan minyak global, terutama bagi negara-negara yang menghadapi kebutuhan energi mendesak. Di Filipina, misalnya, pengiriman minyak Rusia dilaporkan tiba saat negara tersebut menghadapi kondisi darurat energi.
Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr sebelumnya mendeklarasikan situasi darurat energi guna memastikan ketersediaan pasokan listrik nasional. Bloomberg melaporkan Filipina menerima minyak Rusia setelah memperoleh pengecualian sanksi dari AS, dan pemerintahnya mempertimbangkan impor minyak Rusia sebagai opsi untuk menekan biaya energi domestik. Rigzone juga melaporkan otoritas Filipina melihat minyak Rusia sebagai alternatif potensial di tengah lonjakan harga energi global.
Rusia kembali menawarkan kontrak jangka panjang
Di tengah meningkatnya permintaan, Rusia dilaporkan kembali menawarkan pasokan minyak dan gas jangka panjang kepada pembeli internasional, termasuk di Eropa. Tawaran tersebut muncul ketika harga energi global melonjak akibat ketegangan geopolitik dan gangguan pasokan.
Langkah ini dinilai sebagai upaya Moskwa mempertahankan pangsa pasar ekspornya di tengah tekanan sanksi internasional. Peningkatan permintaan dari negara-negara Asia dan kawasan lain juga menunjukkan pergeseran pola perdagangan energi global.
Dinamika transisi energi dan keamanan pasokan
Perubahan arus perdagangan minyak Rusia mencerminkan dinamika transisi energi global yang semakin kompleks. Kebijakan sanksi, konflik geopolitik, kebutuhan energi domestik, serta upaya diversifikasi sumber pasokan menjadi faktor utama yang membentuk pasar energi internasional.
Uni Eropa terus mendorong penggunaan energi terbarukan dan pengurangan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dari Rusia. Namun, sejumlah negara masih menghadapi tantangan dalam menggantikan pasokan energi tersebut dalam jangka pendek.
Di sisi lain, negara-negara berkembang menghadapi tekanan untuk menjaga stabilitas harga energi domestik sekaligus memastikan pasokan yang cukup bagi industri dan sektor kelistrikan. Situasi ini membuat minyak Rusia tetap menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan di pasar global, terutama ketika harga energi meningkat dan pasokan alternatif terbatas.
Dengan meningkatnya permintaan serta perubahan kebijakan energi di berbagai negara, perdagangan minyak Rusia diperkirakan tetap menjadi faktor penting dalam dinamika pasar energi dunia.

