BERITA TERKINI
Permintaan Emas Global Naik di Awal 2026, Indonesia Didorong Perkuat Produksi dan Pengolahan

Permintaan Emas Global Naik di Awal 2026, Indonesia Didorong Perkuat Produksi dan Pengolahan

Permintaan emas global yang terus meningkat pada awal 2026 dinilai membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat industri pengolahan logam mulia di dalam negeri. Lonjakan kebutuhan investasi emas dunia juga dipandang sebagai momentum bagi perusahaan tambang milik negara untuk menambah kapasitas produksi sekaligus menekan ketergantungan pada impor.

Pengamat BUMN sekaligus Direktur NEXT Indonesia Center, Herry Gunawan, menilai tren kenaikan permintaan emas global menjadi sinyal agar Indonesia segera memperkuat kapasitas produksi domestik. Menurutnya, tingginya permintaan merupakan sentimen positif karena berpotensi mendorong kenaikan harga, sehingga peningkatan produksi menjadi langkah penting.

Data World Gold Council mencatat total permintaan emas global pada kuartal I 2026, termasuk transaksi over-the-counter (perdagangan langsung di luar bursa), naik 2% secara tahunan menjadi 1.231 ton. Di tengah lonjakan harga emas dunia, nilai permintaan kuartalan disebut melonjak 74% hingga mencapai rekor US$ 193 miliar atau setara Rp 3.088 triliun dengan asumsi kurs Rp 16.000 per dolar AS.

Permintaan emas batangan dan koin juga menunjukkan pertumbuhan kuat. Volume pembelian tercatat 474 ton atau naik 42%, sekaligus menjadi capaian kuartalan tertinggi kedua sepanjang sejarah. Investor di Asia disebut menjadi pendorong utama lonjakan tersebut, seiring meningkatnya pembelian produk investasi berbasis emas di tengah ketidakpastian ekonomi global dan volatilitas pasar keuangan.

Herry menyebut peningkatan produksi dapat membuka ruang bagi BUMN pertambangan untuk meningkatkan profitabilitas di tengah tren harga yang menguat. Selain itu, penguatan produksi domestik dinilai dapat membantu memperbaiki neraca perdagangan emas nasional yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami tekanan.

Sejak 2021, Indonesia tercatat mengalami defisit perdagangan emas dan berstatus sebagai net importer. Kondisi ini terjadi karena kebutuhan emas domestik dinilai jauh lebih besar dibandingkan kapasitas produksi dan ekspor nasional.

Untuk menjawab tantangan tersebut, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (Antam), yang berada di bawah holding industri pertambangan MIND ID, mempercepat pembangunan fasilitas manufaktur emas logam mulia di Gresik, Jawa Timur. Pabrik baru itu dirancang memiliki kapasitas produksi hingga 30 ton per tahun.

Fasilitas di Gresik direncanakan melengkapi pabrik emas logam mulia Antam di Pulogadung, Jakarta, yang saat ini berkapasitas 40 ton per tahun. Dengan tambahan kapasitas tersebut, kemampuan produksi manufaktur emas Antam diharapkan meningkat untuk memenuhi lonjakan permintaan pasar domestik.

Dalam rantai pasok industri emas nasional, pasokan bahan baku disebut berasal dari dua sumber utama. Pertama, tambang emas Antam di Jawa Barat dengan produksi sekitar 1 ton per tahun. Kedua, Precious Metal Refinery PT Freeport Indonesia yang mampu mengolah lumpur anoda menjadi emas batangan sebanyak 50 hingga 60 ton per tahun. Integrasi rantai pasok ini dinilai menjadi fondasi bagi pembangunan ekosistem bullion nasional.

Melalui penguatan sinergi di bawah Grup MIND ID, pemerintah disebut berupaya membangun ekosistem bullion Indonesia yang lebih terintegrasi dari hulu hingga hilir. Upaya ini diarahkan untuk memenuhi kebutuhan emas logam mulia domestik yang diperkirakan mencapai sekitar 70 ton per tahun dan masih menunjukkan tren peningkatan.

Jika kapasitas pengolahan domestik terus diperkuat, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk mengurangi ketergantungan impor sekaligus meningkatkan nilai tambah mineral di dalam negeri.