Mataram — Di tengah kekhawatiran perlambatan ekonomi nasional dan global, kalangan perbankan di Nusa Tenggara Barat (NTB) menilai kondisi ekonomi daerah masih cukup kuat. Direktur Utama BPRS Dinar Ashri, Mustaen, mengatakan fondasi ekonomi Indonesia, termasuk NTB, masih ditopang konsumsi domestik yang stabil serta program pemerintah yang dinilai menjaga perputaran uang di daerah.
Mustaen menyebut industri perbankan secara umum memang menghadapi tantangan di sejumlah sektor. Namun, menurutnya, kondisi itu tidak bisa digeneralisasi karena kinerja setiap lembaga keuangan berbeda.
“Kalau dilihat per bagian memang ada tantangan. Tapi kalau dilihat secara umum, masih ada bank yang tumbuh sangat baik dan mampu menutup pelemahan di sektor lain,” ujarnya, Rabu, 6 Mei 2026.
Ia mencontohkan kinerja BPRS Dinar Ashri sepanjang 2025 yang mencatat pertumbuhan pada sejumlah indikator. Dari sisi pembiayaan, perusahaan mencatat pertumbuhan sekitar 56 persen dengan total pembiayaan sekitar Rp686 miliar. Sementara dana pihak ketiga tumbuh 25 persen menjadi sekitar Rp273 miliar.
Dari sisi aset, BPRS Dinar Ashri mencatat total aset sekitar Rp2,1 triliun pada 2025, meningkat sekitar 46 persen dibanding tahun sebelumnya atau bertambah sekitar Rp686 miliar.
Menurut Mustaen, struktur aset perusahaan didominasi aset produktif. Ia menyebut pembiayaan mencapai hampir Rp1,9 triliun, sementara selisih aset di luar itu sebagian besar berupa kas di bank. Ia menegaskan pihaknya tidak mengarahkan pertumbuhan aset dari aset tetap seperti gedung atau kendaraan karena dinilai tidak memberikan nilai produktif.
Mustaen menilai salah satu kunci ketahanan industri perbankan di tengah dinamika ekonomi adalah kemampuan membaca peluang usaha yang masih tumbuh di masyarakat. Saat ini, portofolio pembiayaan BPRS Dinar Ashri masih didominasi sektor konsumtif sekitar 53 persen, disusul pembiayaan produktif dan pembiayaan emas yang juga menunjukkan pertumbuhan.
“Kita harus optimistis, tapi tetap hati-hati. Optimis tanpa perhitungan juga tidak baik. Yang penting pandai melihat sektor mana yang masih tumbuh, itu yang kita masuki,” katanya.
Lebih lanjut, ia menilai ekonomi Indonesia relatif aman karena ditopang konsumsi domestik. Perputaran uang di dalam negeri, menurutnya, tetap berjalan baik dan menjadi bantalan saat ekonomi global menghadapi tekanan.
Ia juga menyoroti program pemerintah yang dinilai berdampak langsung terhadap ekonomi daerah, salah satunya program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, program tersebut menciptakan permintaan baru bagi produk pertanian lokal seperti telur, sayur-mayur, hingga cabai yang dibeli dari daerah setempat.
“Sekarang petani cabai sudah jarang mengeluh hasil panennya tidak terserap. Artinya ada permintaan yang meningkat. Tinggal bagaimana produksinya ditingkatkan agar harga tetap stabil dan konsumen juga tidak dirugikan,” ujarnya.
Mustaen menyatakan optimistis target pertumbuhan ekonomi nasional dapat terjaga selama program pembangunan berjalan konsisten dan integritas pelaksanaannya dipertahankan. Ia juga menekankan pelaku usaha, termasuk perbankan, tidak seharusnya menghentikan ekspansi hanya karena tantangan ekonomi global.
“Ekonomi harus tetap tumbuh. Kalau semua berhenti karena takut situasi global, uang tidak akan berputar. Justru saat seperti ini semua pihak harus tetap bekerja dan mencari peluang agar ekonomi tetap bergerak,” tegasnya.