LONDON – Perang yang berkecamuk di Timur Tengah memangkas produksi minyak global hingga 11 juta barel per hari. Dengan gagalnya upaya terbaru untuk mengakhiri permusuhan, gangguan pasokan diproyeksikan berlangsung lama. Bahkan dalam skenario terbaik sekalipun, pemulihan produksi ke kapasitas penuh disebut membutuhkan waktu berbulan-bulan.
Prospek gencatan senjata yang bertahan lama kian memudar seiring ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) untuk menambah blokade terhadap hambatan lalu lintas kapal tanker di Teluk Persia. Menurut laporan Reuters, kapal-kapal tanker sudah menghindari titik sempit (chokepoint) tersebut, memperparah situasi dan mendorong kenaikan harga minyak. Minyak mentah Brent dilaporkan melonjak menembus US$102 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik di atas US$104 per barel.
Kepala Analisis Geopolitik Rystad Energy, Jorge Leon, mengatakan kepada Financial Times pada awal bulan ini bahwa sekalipun gencatan senjata terjadi segera dan selat kembali dibuka, pasar tidak akan kembali normal setidaknya selama enam bulan.
Financial Times mencatat sekitar sepersepuluh produksi minyak global telah ditutup, bersamaan dengan sekitar 2,4 juta barel per hari kapasitas penyulingan. Penurunan ini diproyeksikan masih bisa semakin dalam. Administrasi Informasi Energi AS (EIA) dalam laporan Short-Term Energy Outlook terbaru memperkirakan penutupan produksi di seluruh Timur Tengah naik dari 7,5 juta barel per hari pada bulan lalu menjadi 9,1 juta barel per hari pada bulan ini.
Dalam skenario optimistis EIA, perang diasumsikan berakhir pada Mei. Dengan asumsi tersebut, penutupan produksi diproyeksikan turun menjadi 6,7 juta barel per hari dan baru mendekati tingkat sebelum konflik pada akhir 2026.
Laporan Wood Mackenzie (Wood Mac) memperkirakan sekitar separuh produksi yang ditutup dapat dipulihkan dalam hitungan hari, dan meningkat menjadi tiga perempat dalam beberapa minggu. Namun, proyeksi itu bergantung pada syarat Selat Hormuz dibuka kembali sepenuhnya. Wood Mac menekankan bahwa pemulihan sisa barel terakhir akan memakan waktu berbulan-bulan karena membutuhkan intervensi sumur serta optimalisasi sistem produksi dari kepala sumur hingga jalur pipa, pabrik gas, fasilitas air, dan logistik ekspor.
Jika pemulihan berjalan dan izin diberikan, lebih dari 120 juta barel minyak mentah yang kini tersimpan di kapal laut dapat kembali mengalir ke pasar. Pengiriman diperkirakan dapat mencapai Eropa dalam dua hingga tiga minggu dan Asia Utara dalam sekitar empat minggu. Namun, pasokan ini dinilai tidak akan bertahan lama mengingat permintaan minyak global diperkirakan berada di kisaran 104 hingga 105 juta barel per hari pada tahun lalu, berdasarkan data Bank Dunia (World Bank) dan Badan Energi Internasional (IEA).
Pemulihan infrastruktur yang rusak juga menjadi tantangan. Financial Times menyoroti Arab Saudi sebagai contoh, setelah produsen terbesar OPEC itu dilaporkan mengalami kerusakan infrastruktur akibat serangan yang mengurangi kapasitas produksi sekitar 600.000 hingga 700.000 barel per hari, setara penurunan kapasitas sekitar 5 persen.
Tekanan juga terjadi pada sektor gas alam. Kapasitas produksi Qatar sebesar 77 juta ton per tahun dilaporkan sedang lumpuh (offline) karena perbaikan pasca-serangan Iran. Defisit 77 juta ton tersebut dinilai sulit digantikan dalam waktu dekat, sehingga mendorong importir LNG besar di Asia, termasuk Jepang, beralih ke batu bara.
Menurut Wood Mac, kehilangan produksi aktual dari Qatar mencapai 12,8 juta ton per tahun. Selain itu, rangkaian fasilitas (trains) yang tidak rusak di Ras Lanuf terpaksa menangguhkan operasi akibat blokade efektif di Selat Hormuz, dan diperkirakan tetap membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk kembali berproduksi.