Perang Israel-Iran yang dimulai pada 13 Juni 2025 memicu ketidakpastian baru bagi perekonomian global, terutama melalui kenaikan harga energi. Pada 17 Juni 2025, harga minyak Brent tercatat naik 11,1 persen menjadi USD74,927 per barel. Sementara itu, harga gas alam cair (liquified natural gas/LNG) kontrak Juli 2025 naik menjadi USD45,34, atau meningkat sekitar 3,2 persen dibandingkan kontrak Juni 2025.
Eskalasi konflik yang berpotensi berkepanjangan dinilai dapat mengganggu arus perdagangan minyak mentah dan gas yang melintasi Teluk Persia. Sekitar 35 persen perdagangan gas dan minyak mentah dunia melewati Selat Hormus yang dikuasai Iran. Jika terjadi gangguan logistik pada jalur tersebut, harga minyak dunia diperkirakan dapat terdorong hingga sekitar USD100 per barel, lebih tinggi dibandingkan harga pada Juli 2024 yang berada di sekitar USD87,426 per barel.
Kenaikan harga minyak berisiko memukul negara-negara importir melalui mekanisme cost push inflation, yakni inflasi yang dipicu kenaikan biaya, terutama biaya logistik akibat meningkatnya harga bahan bakar. Sebelum perang Israel-Iran pecah, International Monetary Fund (IMF) dalam World Economic Outlook (WEO) April 2025 memproyeksikan inflasi global pada 2025 mencapai 4,3 persen, naik 0,1 persen dibandingkan proyeksi Januari 2025.
Dalam proyeksi IMF per April 2025, inflasi negara maju pada 2025 diperkirakan berada di 2,5 persen, sementara inflasi untuk kelompok Emerging Market and Developing Economies (EMDEs) diproyeksikan 5,5 persen. Proyeksi tersebut mempertimbangkan perubahan harga komoditas dunia dan menyusutnya volume perdagangan global yang dipengaruhi perang dagang AS-Tiongkok. Pada saat proyeksi dibuat, tren harga minyak dunia sedang menurun, sementara tekanan inflasi global disebut bersumber dari gangguan rantai pasok, kenaikan harga barang impor di AS, dan menyusutnya volume perdagangan global yang memicu guncangan pasokan.
Konflik Israel-Iran kini menambah sumber tekanan inflasi global melalui kenaikan harga minyak mentah dan gas bumi. Dalam skenario perang berkepanjangan, harga minyak yang diperkirakan dapat mencapai USD100 per barel disebut berpotensi memunculkan tekanan ganda: menyusutnya pasokan global akibat “trade war jilid dua” (tarif Trump) dan lonjakan harga minyak dunia lebih dari 10 persen. Kondisi ini diperkirakan dapat mendorong inflasi global 2025 ke kisaran sekitar 5,2–5,7 persen, lebih tinggi dari proyeksi IMF sebesar 4,3 persen.
Riset FXStreet memperkirakan perang berkepanjangan antara Israel dan Iran dapat mendorong harga minyak dunia naik lebih dari 10 persen. Mengacu pada pola 2019, setiap kenaikan 10 persen harga minyak disebut berkontribusi sekitar 0,4 persen terhadap inflasi global. Dengan pola yang sama, konflik Israel-Iran diperkirakan dapat mendorong harga minyak naik lebih dari 20 persen.
Meski demikian, dampak perang Israel-Iran pada 2025 dinilai tidak akan sama seperti krisis energi pada Perang Yom Kippur 1973. Saat itu, negara-negara Arab eksportir minyak menyepakati pengurangan produksi 5,0 persen per bulan hingga Israel keluar dari Semenanjung Sinai dan Dataran Tinggi Golan. Embargo minyak menyebabkan harga melonjak hingga 400 persen dan memperkuat ketidakpastian ekonomi global. Sejumlah negara Eropa bahkan memberlakukan pembatasan kecepatan kendaraan di jalan bebas hambatan hingga 90 kilometer per jam untuk menekan konsumsi bahan bakar.
Di tengah risiko kenaikan inflasi, era suku bunga tinggi diperkirakan masih berlanjut. Salah satu indikatornya, proyeksi sejumlah bank investasi global menyebut The Federal Reserve (The Fed) pada rapat dua hari di minggu ketiga Juni 2025 diperkirakan mempertahankan Federal Fund Rate (FFF) di level 4,5 persen. Negara-negara importir minyak yang terdampak inflasi paling berat juga diprediksi akan mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga acuan guna menahan tekanan inflasi.
Untuk mitigasi dampak kenaikan harga minyak mentah terhadap inflasi, terutama di tingkat nasional, langkah antisipasi yang disorot adalah penyiapan skema bantuan sosial bagi kelompok masyarakat paling rentan, yaitu berpendapatan terendah. Pemerintah disebut perlu mempertimbangkan perpanjangan insentif ekonomi berupa bantuan beras 10 kilogram per bulan bagi masyarakat miskin yang diumumkan pada awal Juni 2025.
Dari sisi kebijakan moneter, meningkatnya ekspektasi inflasi dinilai dapat mendorong Bank Indonesia (BI) setidaknya menunda tren pelonggaran suku bunga yang dimulai pada Mei 2025. Kebijakan tersebut dipandang diperlukan agar kenaikan harga minyak dunia tidak berdampak terlalu besar terhadap inflasi nasional pada 2025.
Selain itu, bauran kebijakan moneter dan fiskal diharapkan tetap mampu memberi stimulus untuk menahan laju perlambatan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi 2025 diperkirakan sebesar 4,7 persen atau lebih kecil dari 4,7 persen, dengan tekanan yang disebut berasal dari tarif Trump dan perang Israel-Iran.

