Perang yang berkecamuk selama tujuh hari antara Amerika Serikat dan Iran mulai menimbulkan dampak luas pada rantai pasokan global dan pasar energi. Presiden AS Donald Trump menuntut Iran menyerah, sementara pelaku pasar menilai eskalasi konflik telah memperbesar risiko gangguan pasokan.
Di pasar energi, harga minyak mentah berjangka AS mencapai US$90 per barel dan minyak mentah Brent mendekati US$95 per barel untuk pertama kalinya dalam hampir dua tahun. Para pedagang memperingatkan level US$100 per barel berpotensi segera tercapai jika ketegangan berlanjut.
Amerika Serikat
Dari sisi ekonomi domestik AS, penurunan perekrutan yang tidak terduga memunculkan tantangan baru bagi pandangan yang selama ini berkembang di kalangan pembuat kebijakan Federal Reserve. Selama ini, pasar tenaga kerja yang stabil dinilai memungkinkan bank sentral menahan suku bunga sambil tetap memerangi inflasi yang bertahan.
Data menunjukkan penurunan 92.000 lapangan kerja pada Februari, disertai kenaikan tingkat pengangguran menjadi 4,4%. Sejumlah ekonom memperingatkan risiko siklus stagflasi di tengah meluasnya perang di Timur Tengah yang mendorong harga minyak melonjak.
Sektor manufaktur AS tercatat berkembang pada Februari, namun harga input meningkat pada laju tercepat sejak 2022. Kondisi ini memicu kekhawatiran kebangkitan inflasi, bahkan sebelum serangan akhir pekan terhadap Iran. Serangkaian data harga terbaru dan perkembangan geopolitik dinilai menunjukkan tekanan inflasi yang relatif stabil bagi produsen AS, yang sebagian dikaitkan dengan bea impor yang lebih tinggi dari pemerintahan Trump.
Eropa
Di Eropa, empat pekan ke depan dipandang krusial untuk menentukan apakah ekonomi kawasan menghadapi krisis baru atau hanya gangguan sementara dalam pemulihan. Perang yang berkepanjangan berisiko mengganggu kebangkitan zona euro yang masih muda sekaligus kembali memanaskan inflasi yang selama ini berupaya dikendalikan Bank Sentral Eropa (ECB).
Inflasi zona euro tercatat meningkat secara tak terduga, memperkuat alasan kehati-hatian ECB dalam kebijakan suku bunga, terutama ketika perang di Iran mendorong harga energi naik. Inflasi inti—yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi yang volatil—juga naik dan mencapai 2,4%, melampaui perkiraan ekonom.
Asia
Di Asia, kepanikan menyebar di kalangan pembeli minyak dan bahan bakar karena konflik di Timur Tengah dinilai mencekik akses terhadap minyak mentah, bahan bakar olahan, hingga bahan baku petrokimia. Penutupan efektif Selat Hormuz mendorong beberapa negara memprioritaskan kebutuhan domestik, memangkas ekspor, dan memperketat pasokan di tingkat regional.
Di Korea Selatan, kekhawatiran atas konflik Timur Tengah memicu aksi jual besar di pasar saham. Indeks Kospi sempat anjlok 12% setelah turun 7,2% pada hari Selasa, dengan saham-saham unggulan seperti Samsung Electronics Co., SK Hynix Inc., dan Hyundai Motor Co. mengalami penurunan tajam. Dari lebih dari 800 saham dalam indeks acuan, hanya 10 yang berakhir menguat. Kospi kemudian sedikit pulih pada akhir pekan.
Sementara itu, China menetapkan target pertumbuhan paling moderat sejak 1991, yang dipandang sebagai pengakuan tersirat bahwa model yang selama ini mendorong kebangkitan ekonomi negara tersebut menunjukkan tanda-tanda tekanan.
Pasar negara berkembang
Di pasar negara berkembang, ekspor minyak mentah Venezuela dari pusat ekspor utamanya meningkat menuju level tertinggi dalam beberapa tahun pada Maret, tiga bulan setelah pemerintahan Trump mengendalikan penjualan minyak. Tambahan pasokan yang moderat ini masuk ke pasar di tengah perang di Timur Tengah yang memicu pemotongan produksi di sejumlah produsen minyak terbesar OPEC, sehingga membuka peluang bagi minyak Venezuela.
Namun lonjakan harga energi juga meningkatkan kerentanan negara-negara pengimpor minyak. Chili dan negara-negara kecil seperti Republik Dominika, yang disebut sudah terbebani oleh upaya Washington untuk mengurangi pengaruh Tiongkok dan menegaskan kembali dominasinya di kawasan Amerika, kini menghadapi risiko tambahan dari lonjakan harga minyak secara mendadak akibat perang di Iran.

