BERITA TERKINI
Peran Farmasi Menguat dalam Deteksi Dini Neuropati, Intervensi Awal Dinilai Penting

Peran Farmasi Menguat dalam Deteksi Dini Neuropati, Intervensi Awal Dinilai Penting

Jakarta — Kasus gangguan neuropati dilaporkan semakin banyak ditemukan di berbagai wilayah, termasuk kawasan Asia Pasifik. Situasi ini mendorong perubahan pendekatan layanan kesehatan, terutama dengan memperkuat peran farmasi di tengah masyarakat agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan efektif.

Neuropati merupakan kondisi medis akibat kerusakan atau gangguan fungsi pada saraf tepi, yakni saraf yang menghubungkan otak dan sumsum tulang belakang ke seluruh tubuh. Kondisi ini dinilai bukan lagi masalah yang jarang terjadi dan memerlukan perhatian lebih serius.

“Peraturan neuropatik tidak hanya biasa, tetapi juga sering diperhatikan di region kita,” ujar Dr. Lusy Noviani, Head of Pharmacist Professional Study Program UNIKA Atma Jaya, Jakarta, dalam acara P&G Health Asia Pacific Virtual Media Roundtable 2026 yang digelar daring, Kamis (16/04/26).

Seiring meningkatnya kasus, peran farmasi disebut tidak lagi terbatas pada penyediaan obat. Farmasi kini dipandang dapat berkontribusi dalam deteksi dini, edukasi, hingga intervensi awal bagi pasien neuropati.

Transformasi farmasi dari belakang layar ke garda depan

Dr. Lusy menjelaskan, posisi farmasi dalam sistem pelayanan kesehatan mengalami perubahan signifikan. Jika sebelumnya lebih banyak berperan di belakang, kini farmasi mulai berada di garis depan pelayanan. “Farmasi bergerak dari belakang kontor hingga menjadi bagian dari jaringan depan penyelamatan,” jelasnya.

Ia mencontohkan sejumlah negara seperti Australia, Singapura, dan Malaysia, yang telah menempatkan farmasi sebagai bagian dari layanan utama. Dalam praktiknya, farmasi tidak hanya menyediakan obat, tetapi juga melakukan edukasi dan intervensi awal. “Ini berarti peran kita menjadi lebih proaktif, terutama di komunitas farmasi,” tambahnya.

Peran strategis di Indonesia

Di Indonesia, peran farmasi dinilai semakin penting karena akses terhadap dokter belum merata di semua wilayah. Sementara itu, farmasi relatif lebih mudah dijangkau masyarakat. “Di komunitas, farmasi sangat mudah diakses. Oleh karena itu, farmasi dapat membantu mengenali simptom awal dan memberikan edukasi inisial,” ungkap Dr. Lusy.

Dengan kedekatan tersebut, farmasi dapat menjadi titik awal masyarakat untuk memperoleh informasi kesehatan yang tepat sebelum melanjutkan ke pemeriksaan lanjutan.

Kontribusi farmasi dalam penanganan neuropati

Menurut Dr. Lusy, terdapat beberapa kebutuhan dalam penanganan neuropati yang dapat dibantu oleh farmasi. Pertama, dalam praktik medis fokus sering tertuju pada penyakit utama seperti diabetes, sehingga gejala awal neuropati berisiko terlewat. Dalam kondisi ini, farmasi dapat membantu dengan mengenali gejala awal dan mengajukan pertanyaan sederhana.

Kedua, keterbatasan waktu konsultasi di fasilitas kesehatan dapat membuat penilaian tidak maksimal. Dr. Lusy menyebut farmasi dapat mendukung pasien melalui penyelidikan awal dan pengendalian inisial untuk menurunkan gejala.

Ketiga, masih banyak pasien yang mengabaikan gejala awal atau menganggapnya ringan. Dalam hal ini, farmasi dapat memberikan pendidikan awal, termasuk mengajarkan kapan pasien memerlukan penilaian lebih lanjut.

Menutup celah deteksi dini dan pentingnya identifikasi awal

Dengan berbagai fungsi tersebut, farmasi dinilai dapat mengisi kekosongan dalam sistem deteksi dini neuropati yang selama ini masih menjadi tantangan. “Farmasi jelas membantu menutup lubang dalam penyelidikan periperal neuropatik,” tegas Dr. Lusy.

Meski peran farmasi semakin luas, ia menekankan bahwa langkah awal yang paling penting adalah mengenali pasien yang membutuhkan penanganan segera. “Sebelum kita bisa berintervensi, kita harus mengenali pesakit yang sedang berat,” ujarnya.

Identifikasi sejak dini disebut menjadi kunci agar intervensi tepat sasaran dan membantu mencegah kondisi berkembang menjadi lebih serius.