BERITA TERKINI
Penutupan Selat Hormuz Picu Kelangkaan Avtur, Maskapai Asia-Eropa Mulai Pangkas Penerbangan

Penutupan Selat Hormuz Picu Kelangkaan Avtur, Maskapai Asia-Eropa Mulai Pangkas Penerbangan

Dampak perang Iran dan Amerika Serikat mulai terasa kuat di industri penerbangan global. Penutupan akses Selat Hormuz—jalur utama pengiriman energi dunia—memicu kelangkaan bahan bakar pesawat (avtur) yang menekan operasional maskapai dari Asia hingga Eropa, memaksa pembatalan penerbangan sekaligus mendorong biaya operasional ke level tertinggi.

Data penyedia energi Vortexa memperkirakan impor avtur ke Eropa turun hingga 420.000 barel per hari pada pekan ini. Angka itu merosot sekitar 40% dibandingkan pekan lalu dan menjadi level terendah sejak Maret 2022.

Sebelum konflik pecah, Selat Hormuz disebut menyumbang sekitar 40% dari total pasokan avtur ke Eropa. Namun kini, arus pengiriman dari Timur Tengah nyaris terhenti dengan volume yang turun hingga 90%.

Manajer Riset Insights Global, Lars van Wageningen, memperingatkan Eropa berpotensi menghadapi krisis pasokan dalam beberapa minggu ke depan, bertepatan dengan periode menjelang puncak perjalanan musim panas. Ia menyebut situasi ini dapat menjadi tekanan tambahan bagi rantai pasok avtur di kawasan tersebut.

Sejumlah analis juga menilai, jika cadangan terus menyusut, maskapai di Eropa kemungkinan mulai memangkas rute jarak pendek dan menengah pada akhir April.

Asia terdampak lebih awal

Di Asia, dampak kelangkaan avtur muncul lebih cepat karena ketergantungan kawasan ini pada minyak mentah yang melewati Selat Hormuz. Sejumlah negara dan maskapai mengambil langkah darurat untuk menjaga operasional.

Di Vietnam, Vietnam Airlines mengumumkan akan menyuspensi 23 penerbangan domestik per minggu mulai 1 April akibat keterbatasan stok Jet A-1. Di Selandia Baru, Air New Zealand membatalkan sekitar 1.100 penerbangan domestik.

Sementara itu, Tiongkok dan Korea Selatan mulai menyiapkan kebijakan defensif. Beijing membatasi ekspor bahan bakar untuk mengamankan stok dalam negeri, sedangkan Seoul mempertimbangkan pengalihan avtur ekspor ke pasar lokal.

Di Filipina, Presiden Ferdinand Marcos Jr. menyatakan penghentian operasi pesawat (grounding) menjadi “kemungkinan yang nyata” bila krisis berlanjut.

Harga avtur melonjak, tiket diperkirakan ikut naik

Kelangkaan pasokan juga mendorong harga avtur melonjak hingga dua kali lipat sejak awal tahun. Direktur Jenderal IATA, Willie Walsh, mengatakan kenaikan biaya tersebut pada akhirnya sulit dihindari untuk dibebankan kepada penumpang melalui harga tiket. Menurutnya, maskapai perlu meneruskan sebagian beban biaya agar operasional tetap berjalan.

Di sisi lain, sejumlah maskapai mulai menerapkan strategi round-trip fuelling, yakni membawa bahan bakar ekstra dari bandara asal agar tidak perlu mengisi ulang di bandara tujuan yang stoknya menipis. Namun strategi ini menambah bobot pesawat dan berisiko meningkatkan konsumsi bahan bakar secara keseluruhan.

Strategis Energi Global Macquarie Group, Vikas Dwivedi, menegaskan bahwa volume penerbangan tidak dapat dipertahankan tanpa ketersediaan avtur yang memadai. Ia menilai keterbatasan pasokan pada akhirnya akan membatasi jumlah penerbangan yang bisa dijalankan.

Pemulihan diperkirakan tidak instan

Sejumlah pihak menilai, sekalipun ketegangan mereda dalam waktu dekat, pasar avtur tidak akan segera pulih. CEO Alkagesta, Orkhan Rustamov, menyebut akan ada jeda waktu untuk menormalkan kembali arus perdagangan, menyesuaikan hasil kilang, serta membangun ulang jadwal penerbangan maskapai.

Hingga kini, sekitar 37 juta barel avtur dan minyak tanah diperkirakan hilang dari pasar global jika Selat Hormuz tetap tertutup. Di tengah ketidakpastian, industri penerbangan disebut berada dalam mode pemantauan harian sambil menanti solusi diplomatik yang dapat membuka kembali jalur logistik vital tersebut.