Produsen kendaraan listrik asal China, BYD, kembali mencatat penurunan penjualan bulanan, memperpanjang tren pelemahan menjadi delapan bulan berturut-turut. Ini menjadi periode penurunan terpanjang sepanjang sejarah perusahaan, di tengah permintaan yang masih lemah di pasar domestik China.
Pada April, penjualan kendaraan BYD turun 15,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Perhitungan angka tersebut didasarkan pada data yang dipublikasikan melalui unggahan Weibo oleh eksekutif perusahaan, Li Yunfei. Rentetan penurunan kali ini melampaui rekor sebelumnya, yakni enam bulan, yang terjadi setelah pemerintah China mengurangi subsidi kendaraan listrik yang berakhir pada Desember 2019.
Di sisi lain, penjualan luar negeri menunjukkan pemulihan yang kuat. Penjualan internasional BYD naik 35% menjadi 130.000 unit pada April, berbalik arah dari penurunan 20,5% yang tercatat pada Maret. Kenaikan ini menegaskan semakin besarnya peran pasar global dalam menopang kinerja perusahaan saat permintaan di dalam negeri melambat.
Meski demikian, tekanan terhadap kinerja keseluruhan masih terlihat. Dalam pembaruan terpisah, BYD melaporkan penjualan kendaraan turun 20,5% secara tahunan menjadi 300.222 unit pada bulan sebelumnya. Penurunan ini lebih ringan dibandingkan Februari yang anjlok 41,1%, namun tetap menunjukkan lemahnya permintaan yang belum pulih.
Tren pelemahan juga tercermin pada kinerja kuartalan. Pada kuartal pertama, penjualan kendaraan BYD turun 30% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, seiring persaingan yang semakin ketat di pasar kendaraan listrik China. Sejumlah pesaing seperti Leapmotor dan Geely disebut terus mengejar ketertinggalan teknologi, yang ikut menggerus dominasi BYD.
Walaupun BYD merupakan produsen mobil terbesar di China pada 2025, posisinya turun ke peringkat keempat pada periode Januari–Februari. Pada periode itu, perusahaan mencatat penurunan terdalam sejak pandemi COVID-19.
Dari sisi keuangan, BYD melaporkan laba bersih 2025 turun 19% menjadi 32,6 miliar yuan (sekitar US$4,72 miliar). Ini menjadi penurunan tahunan pertama dalam empat tahun dan lebih besar daripada perkiraan analis, yang memperkirakan penurunan 12,1% berdasarkan data LSEG. Pertumbuhan pendapatan juga melambat menjadi 3,5%, laju terlemah dalam enam tahun.
Pada kuartal Desember, laba BYD turun 38,2% menjadi 9,3 miliar yuan, memperpanjang tren penurunan laba selama tiga kuartal berturut-turut. Margin juga tertekan, dengan margin laba kotor dari produk otomotif dan terkait turun menjadi 20,5%, atau turun 1,8 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya.
Tekanan harga menjadi salah satu faktor utama. Diskon agresif di sektor kendaraan listrik China menekan profitabilitas, sementara permintaan domestik yang melemah menambah tantangan. Perusahaan merespons dengan langkah efisiensi, termasuk mengurangi jumlah karyawan 10,2% menjadi 869.622 orang pada akhir 2025.
Di tengah kondisi pasar domestik yang berat, BYD menempatkan ekspansi global sebagai pendorong pertumbuhan. Dalam paparan kepada analis setelah rilis kinerja, perusahaan menyatakan “sangat yakin” dapat mencapai target penjualan luar negeri 2026 sebesar 1,5 juta kendaraan, atau bahkan lebih tinggi. Sebelumnya, BYD menetapkan target ekspor 1,3 juta unit untuk tahun berjalan, lebih rendah dari ekspektasi awal hingga 1,6 juta unit yang sempat disampaikan kepada Citi pada November.
Kontribusi penjualan luar negeri terhadap total penjualan juga semakin besar. Porsinya lebih dari dua kali lipat menjadi 22,7% pada tahun lalu, dan meningkat lagi menjadi 50% pada dua bulan pertama tahun ini. BYD juga memperluas kapasitas produksi di luar China, dengan pabrik di Eropa dan Indonesia yang diperkirakan mulai memproduksi massal sekitar Maret atau April.