JAKARTA — Konflik militer yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran memasuki pekan kedua setelah serangan udara besar-besaran pada akhir Februari. Ketegangan yang meningkat di Timur Tengah itu disebut berdampak pada stabilitas kawasan dan turut memengaruhi ekonomi global.
Dalam perkembangan terbaru, Presiden Jerman menyerukan penyelesaian politik guna menjaga integritas wilayah Iran dan mencegah konflik meluas ke skala yang lebih besar.
Pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia, Mulawarman Hannase, menilai eskalasi militer yang terus berlanjut menunjukkan bahwa perang bukan jawaban atas persoalan yang kompleks. Ia menyinggung tuntutan “penyerahan tanpa syarat” dari Amerika serta balasan Iran melalui serangan rudal dan drone sebagai indikator meningkatnya tensi.
“Pergerakan menuju perang hanya akan memperburuk penderitaan rakyat, baik sipil maupun militer, dan meningkatkan risiko konflik regional tak terkendali,” kata Hannase.
Ia menyebut data terbaru memperlihatkan ribuan serangan udara, ratusan rudal, serta lonjakan harga energi global akibat gangguan di Selat Hormuz. Menurutnya, kondisi itu menegaskan bahwa konflik tidak hanya menyentuh aspek keamanan, tetapi juga berdampak pada perekonomian dunia.
Hannase menekankan pentingnya memastikan jalur diplomasi tetap berjalan. Ia menyatakan negosiasi tidak langsung, termasuk melalui mediasi negara ketiga, masih membuka peluang penyelesaian damai.
“Diplomasi bukan tanda kelemahan, tapi jalan untuk menyelamatkan nyawa dan stabilitas regional,” ujarnya.
Terkait pihak yang dapat memulai perundingan, Hannase mendorong diplomasi multilateral yang dipimpin Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan melibatkan negara-negara besar dan organisasi regional seperti Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) serta Liga Arab. Ia menilai semua pihak perlu duduk bersama untuk membuka jalur negosiasi yang nyata.
“Bangsa besar seperti Cina, Rusia, India, Indonesia, serta PBB, OKI, dan Liga Arab punya kapasitas moral dan geopolitik untuk memfasilitasi dialog antara AS, Israel, dan Iran. Tanpa inisiatif ini, konflik hanya akan membesar, mencederai sipil, dan merusak stabilitas global,” kata Hannase.
Ia juga mengingatkan pengalaman negosiasi pelucutan nuklir AS–Iran pada 2025–2026 yang dimediasi Oman sebagai contoh bahwa jalur diplomasi tetap bisa dibuka meski konflik berlangsung intens. Hannase mengajak komunitas internasional memberikan dukungan konkret, termasuk melalui pertemuan tingkat tinggi dan mekanisme negosiasi resmi, untuk mencegah perluasan perang.

