Ekonom dan pengamat ekonomi politik Jro Gde Sudibya menilai asumsi bahwa Amerika Serikat (AS) akan kalah perang melawan Iran merupakan prediksi yang “sangat berlebihan”. Ia menyebut AS memiliki kemampuan persenjataan strategis, termasuk peluru kendali dengan hulu ledak nuklir yang menurutnya jumlahnya diperkirakan mencapai belasan ribu.
Sudibya juga mengatakan hulu ledak nuklir “ada di sekitar kita”, dengan menyebut sejumlah negara di kawasan seperti Australia, Filipina, Korea Selatan, dan Jepang. Ia berharap Presiden AS Donald Trump tidak menggunakan otoritas terkait persenjataan tersebut karena dapat berakibat fatal bagi dunia.
Menurut Sudibya, dampak perang di Timur Tengah terhadap ekonomi global, AS, dan Indonesia berpotensi sangat besar. Ia menyoroti kemungkinan kehancuran di kawasan negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Kuwait, dan Yordania yang dinilainya dapat berdampak serius terhadap perekonomian AS.
Ia menjelaskan, negara-negara tersebut memiliki investasi yang besar di pasar uang dan pasar modal AS, termasuk pada sektor properti. Selain itu, ekspor AS ke kawasan tersebut juga disebut tinggi. Sudibya menilai tekanan terhadap ekonomi AS akan berdampak langsung pada postur ekonomi global.
Dalam konteks Indonesia, Sudibya menyebut kinerja ekspor nasional sangat bergantung pada pasar AS, di samping Singapura, China, dan Jepang. Karena itu, pelemahan ekonomi AS akibat konflik berpotensi memengaruhi perekonomian Indonesia.
Sudibya juga menyoroti Selat Hormuz yang disebutnya kini menjadi “titik api”. Ia menyatakan sekitar 20% pasokan energi global dari negara-negara Teluk melewati selat tersebut, yang berada di wilayah Iran. Menurutnya, jika jalur ini terganggu, pasokan energi dunia dapat tersumbat dan mendorong kenaikan harga energi.
Ia menambahkan China sangat bergantung pada pasokan energi yang melalui Selat Hormuz. Sementara itu, Indonesia disebut bergantung sekitar 19% dari impor minyak, dengan konsumsi sekitar 1,6 juta barel per hari.
Sudibya memaparkan skenario dampak fiskal bagi Indonesia jika harga minyak naik ke 120 dolar AS per barel. Dengan asumsi harga minyak dalam APBN 2026 sebesar 70 dolar AS per barel, ia memperkirakan diperlukan tambahan dana subsidi pada 2026 hingga Rp350 triliun. Kondisi tersebut, menurutnya, dapat membuat APBN 2026 terancam jebol.
Ia menilai pembiayaan tambahan tersebut melalui utang akan semakin sulit atau harus ditempuh dengan bunga yang lebih tinggi. Sudibya juga memperingatkan defisit 2026 berpotensi melampaui 3% dari PDB dan menyebut presiden menghadapi risiko dimakzulkan.

