BERITA TERKINI
Pemulihan Ekonomi Awal 2026 Menguat, Daya Beli Kelas Menengah-Bawah Masih Tertekan

Pemulihan Ekonomi Awal 2026 Menguat, Daya Beli Kelas Menengah-Bawah Masih Tertekan

JAKARTA — Pemulihan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 menunjukkan penguatan. Pertumbuhan ekonomi tercatat 5,61% secara tahunan (year on year/yoy), meningkat dibandingkan 5,04% pada kuartal IV-2025, ditopang konsumsi domestik, lonjakan belanja pemerintah, serta investasi yang kembali tumbuh kuat.

Meski demikian, pemulihan daya beli dinilai belum merata. Laporan Regular Economic Update: Laporan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Q1-2026 yang disusun Office of Chief Economist Group BRI menilai kelompok kelas atas mulai mendekati level normal, sementara kelas menengah dan bawah masih menghadapi tekanan konsumsi, terbatasnya peluang kerja, serta pendapatan riil yang belum pulih sepenuhnya.

Laporan tersebut juga menyoroti meningkatnya risiko global menyusul eskalasi konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat. Risiko ini dinilai berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi global maupun domestik melalui transmisi harga energi, inflasi, nilai tukar, pasar keuangan, hingga perdagangan internasional.

Menurut OCE BRI, konflik di Timur Tengah berisiko mengganggu jalur vital Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20% konsumsi minyak dunia. Gangguan pasokan minyak dan gas berpotensi mendorong kenaikan harga energi global, memperbesar tekanan inflasi, mempersempit ruang pelonggaran moneter bank sentral, serta meningkatkan volatilitas pasar keuangan.

“Jika konflik Iran-Israel terjadi secara langsung dan berkepanjangan, maka konflik ini akan berdampak sangat negatif terhadap perekonomian global karena dapat mendorong kenaikan harga minyak, inflasi, membatasi ruang pelonggaran moneter bank sentral, dan menekan pertumbuhan ekonomi global,” tulis laporan tersebut.

Secara historis, perang langsung (direct war) disebut kerap memicu lonjakan risiko geopolitik dan harga minyak. Dalam 50 tahun terakhir tercatat sedikitnya 16 konflik geopolitik besar dunia, delapan di antaranya merupakan perang langsung. Berdasarkan data Bloomberg yang dikompilasi OCE BRI, perang langsung rata-rata mendorong kenaikan Geopolitical Risk Index sebesar 89,3 poin, kenaikan harga minyak Brent sekitar 44,7%, dan penurunan pertumbuhan ekonomi global sebesar 0,33%.

Tekanan geopolitik mulai tercermin pada indikator ekonomi global pada Maret 2026. PMI manufaktur global turun dari 51,8 pada Februari menjadi 51,3 pada Maret. Indeks keyakinan konsumen global juga turun dari 50 menjadi 49,4 atau kembali ke bawah level netral.

Dalam pemetaan OCE BRI, Indonesia masuk Kuadran III—kategori negara dengan pelemahan simultan pada sisi permintaan dan penawaran—dengan penurunan PMI manufaktur serta keyakinan konsumen yang dinilai relatif paling tajam dibanding sejumlah negara lain.

Di dalam negeri, konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama ekonomi dengan kontribusi sekitar 54,4% terhadap PDB dan menyumbang 2,94 poin persentase terhadap pertumbuhan. Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52%, sementara investasi tumbuh 5,96%.

Lonjakan terbesar berasal dari pengeluaran pemerintah yang meningkat 21,81% yoy, terutama dipicu percepatan belanja negara pada awal tahun. Ekspor masih tumbuh 0,90%, namun melambat dibandingkan tahun sebelumnya seiring tekanan perdagangan global dan moderasi pertumbuhan negara mitra dagang.

Secara sektoral, pertumbuhan pada kuartal I-2026 terutama ditopang sektor berbasis konsumsi domestik seperti perdagangan dan reparasi, transportasi, serta akomodasi makan-minum. Momentum Ramadan, Idulfitri, dan pencairan THR disebut menjadi penggerak.

Namun penguatan tidak terjadi merata. Sektor manufaktur masih mengalami perlambatan, sementara pertambangan tertekan oleh lemahnya permintaan global. Di sektor agrikultur, mayoritas subsektor mengalami moderasi pertumbuhan, dengan peternakan menjadi subsektor yang mencatat akselerasi kuat seiring meningkatnya permintaan daging ayam dan telur selama Ramadan serta pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

OCE BRI mencatat indeks daya beli seluruh kelas ekonomi membaik pada kuartal I-2026 dibandingkan rata-rata 2025. Akan tetapi, indeks daya beli kelas bawah dan menengah masih berada di bawah level normal historis atau berada di bawah nol, yang menunjukkan tekanan konsumsi kelompok menengah-bawah belum pulih sepenuhnya dan ruang belanja masih terbatas, terutama untuk konsumsi nonesensial.

Di sisi lain, daya beli kelas atas mulai mendekati level normal dan menjadi penopang utama pemulihan konsumsi domestik. Laporan juga mencatat pergeseran pola konsumsi pascapandemi, di mana pertumbuhan konsumsi lebih ditopang barang dan jasa diskresioner seperti transportasi, komunikasi, restoran, dan hotel—yang umumnya lebih banyak dikonsumsi kelompok menengah-atas. Sementara itu, pertumbuhan konsumsi barang non-diskresioner seperti makanan pokok, perlengkapan rumah tangga, kesehatan, dan pendidikan melambat dibandingkan periode prapandemi.

Konsentrasi pemulihan juga terlihat pada simpanan perbankan. Likuiditas rumah tangga dinilai masih terkonsentrasi pada kelompok berpendapatan tinggi, tercermin dari saldo simpanan kelas atas yang meningkat signifikan, sedangkan simpanan kelas bawah dan menengah-bawah cenderung stagnan. “Pemulihan likuiditas rumah tangga masih terkonsentrasi di kelompok masyarakat dengan saldo tinggi,” tulis OCE BRI.

Dari sisi ketenagakerjaan, tekanan dinilai masih besar. Jumlah pekerja informal meningkat dan mencapai 87,7 juta orang pada Februari 2026 atau sekitar 59,4% dari total pekerja nasional. Selain itu, tren lowongan kerja di sektor-sektor berupah rendah terus melemah hingga awal 2026, yang menunjukkan kapasitas pasar kerja dalam menyerap tenaga kerja berpendapatan rendah semakin terbatas.

OCE BRI menilai kombinasi ketidakpastian global dan pemulihan domestik yang belum merata mendorong perbankan bersikap lebih prudent. Peluang pertumbuhan kredit masih terbuka pada sektor berbasis konsumsi seperti perdagangan, ritel, transportasi, akomodasi makan-minum, serta sektor konstruksi yang didukung proyek pemerintah. Namun, tekanan daya beli kelas menengah-bawah, lemahnya sektor informal, dan risiko perlambatan global perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi kualitas aset kredit dan kemampuan pembayaran debitur.

Secara keseluruhan, laporan menilai pemulihan ekonomi Indonesia mulai mendekati level normal, tetapi kualitas pemulihan masih menjadi pekerjaan rumah. Keberlanjutan pemulihan dinilai akan sangat ditentukan oleh penguatan daya beli kelas menengah dan bawah, perluasan lapangan kerja formal, stabilitas harga energi, serta kemampuan mengantisipasi dampak geopolitik global yang kian tidak pasti.