BERITA TERKINI
Pemkab Sleman Perkuat Manajemen Risiko untuk Jaga Stabilitas di Tengah Ketidakpastian Global

Pemkab Sleman Perkuat Manajemen Risiko untuk Jaga Stabilitas di Tengah Ketidakpastian Global

Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) memperkuat manajemen risiko serta strategi adaptasi ekonomi untuk menjaga stabilitas daerah di tengah ketidakpastian global.

Langkah ini diambil sebagai respons atas fluktuasi harga energi, perubahan iklim, dan konflik geopolitik internasional, termasuk ketegangan di Selat Hormuz, yang dinilai berpotensi memengaruhi kesejahteraan masyarakat dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Sleman.

Ketua Program Studi Kewirausahaan Fakultas Ekonomi dan Sosial Universitas Amikom Yogyakarta, Laksmindra Saptyawati, menyebut manajemen risiko sebagai instrumen kunci untuk memetakan kerentanan daerah. Menurutnya, pendekatan tersebut membantu pemerintah daerah menyusun langkah mitigasi yang terukur agar dampak krisis global tidak langsung mengganggu ekonomi lokal.

“Dengan pendekatan ini, pemerintah daerah mampu memetakan kerentanan sekaligus merumuskan langkah mitigasi yang terukur. Hal ini penting agar dampak krisis global tidak secara langsung mengganggu kesejahteraan masyarakat Sleman, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah,” ujar Laksmindra dalam kegiatan pembinaan organisasi masyarakat (ormas) dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Prima SR Hotel & Convention, Sleman, Kamis (16/4/2026).

Ia menjelaskan, krisis global dapat memengaruhi Sleman melalui empat jalur utama. Pertama, lonjakan harga input seperti pupuk, BBM, dan pakan. Kedua, fluktuasi harga jual akibat pelemahan pasar. Ketiga, ketidakpastian iklim yang mengganggu produksi. Keempat, penurunan pendapatan rumah tangga ketika terjadi kegagalan panen.

Laksmindra juga menyoroti fenomena cost-push pressure, yakni kondisi saat biaya produksi naik lebih dulu sebelum harga jual mengikuti, sehingga margin keuntungan petani menyempit. “Dalam praktik di Sleman, petani padi, cabai, sayur, atau salak bisa sama-sama merasakan kenaikan ongkos budidaya. Jadi, walaupun panen tetap ada, keuntungan bersih belum tentu naik,” katanya.

Untuk memperkuat kemampuan adaptasi, Pemkab Sleman mendorong diversifikasi sektor usaha, penguatan ekonomi berbasis digital, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Strategi tersebut diharapkan menciptakan fleksibilitas ekonomi agar masyarakat tetap produktif di tengah tekanan global.