Sejumlah pejabat pemerintahan Presiden AS Donald Trump dilaporkan sedang menelaah dampak potensial jika harga minyak melonjak hingga mencapai US$200 per barel terhadap perekonomian. Kajian ini, menurut sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, mencerminkan upaya pejabat senior untuk memahami konsekuensi dari skenario ekstrem yang terkait dengan perang AS dengan Iran.
Sumber-sumber itu menekankan bahwa pemodelan mengenai seberapa besar lonjakan harga minyak dapat merugikan prospek pertumbuhan merupakan bagian dari penilaian berkala yang biasanya dilakukan pada masa-masa penuh tekanan, dan bukan merupakan prediksi.
Pemodelan tersebut disebut ditujukan untuk memastikan pemerintah siap menghadapi berbagai kemungkinan, termasuk jika konflik berlangsung berkepanjangan. Para sumber meminta identitasnya tidak disebutkan karena membahas hal-hal yang belum dipublikasikan.
Masih menurut sumber yang sama, bahkan sebelum perang dimulai, Menteri Keuangan AS Scott Bessent telah menyampaikan kekhawatiran bahwa konflik dapat mendorong kenaikan harga minyak dan berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi. Selain itu, pejabat senior di Departemen Keuangan juga disebut telah menyampaikan kekhawatiran kepada Gedung Putih terkait fluktuasi harga minyak dan bensin selama beberapa pekan terakhir.

