Jakarta: Pemerintah memperkirakan ketidakpastian masih akan mewarnai perekonomian global pada 2024. Sedikitnya ada empat tantangan besar yang sedang dan diproyeksikan akan dihadapi ekonomi dunia, yakni tensi geopolitik, arus digitalisasi, perubahan iklim, serta risiko pandemi.
Tensi geopolitik seperti perang Rusia-Ukraina dan memanasnya hubungan dagang Amerika Serikat-Tiongkok dinilai mendorong kebijakan negara-negara besar menjadi lebih berorientasi ke dalam negeri. Dampaknya, dunia disebut semakin terfragmentasi dan tren globalisasi berbalik arah menjadi deglobalisasi.
Kondisi tersebut berimbas pada penurunan volume perdagangan global, yang pada gilirannya menghambat laju pertumbuhan ekonomi dunia. Selain itu, perekonomian global pada 2023 masih menghadapi tekanan, termasuk inflasi global yang belum kembali ke level prapandemi sehingga suku bunga acuan global diperkirakan bertahan tinggi lebih lama.
Situasi itu membuat likuiditas global tetap ketat dan biaya pendanaan masih tinggi. Di saat yang sama, ruang fiskal banyak negara semakin terbatas akibat peningkatan utang selama pandemi. Gejolak perbankan di Amerika Serikat dan Eropa juga menambah risiko serta ketidakpastian di pasar keuangan global.
Ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky menilai berlanjutnya kondisi tersebut berpotensi menghambat arus investasi. “Dengan berlanjutnya (kondisi) ini maka kemudian potensi untuk arus investasi jadi semakin terhambat,” ujarnya, dikutip dari keterangan tertulis, Kamis, 8 Juni 2023.
Meski tertekan pada 2023, perekonomian global diperkirakan sedikit membaik pada 2024 seiring normalisasi harga komoditas. Pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan meningkat dari 2,8% pada 2023 menjadi 3,0% pada 2024. Volume perdagangan dunia juga diperkirakan naik dari 2,4% pada 2023 menjadi 3,5% pada 2024.
Di dalam negeri, ketahanan ekonomi Indonesia disebut tetap terjaga meski di tengah gejolak global. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2023 tercatat 5,0% (year-on-year) dan berada di atas 5% selama enam kuartal berturut-turut.
Inflasi juga berada dalam tren menurun, terutama didorong keberhasilan pemerintah menekan inflasi bahan pangan. Tingkat inflasi tercatat 4,33% (year-on-year) pada April 2023. Pemerintah menilai capaian pertumbuhan ekonomi dan inflasi Indonesia menjadi salah satu yang terbaik di antara negara-negara G20 dan ASEAN.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memandang positif optimisme asumsi makro pemerintah yang dinilai penting untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi. Namun, ia menilai target pertumbuhan ekonomi tersebut tetap memerlukan kerja ekstra pemerintah dan berpotensi berada mendekati batas bawah target.
“Kami melihat dengan kondisi tantangan global, dari sisi feasibility-nya mungkin masih akan mendekati batas bawah dari target (pertumbuhan) ataupun dari asumsi KEM-PPKF 2024 tersebut,” kata Josua.

