Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah akan segera melakukan reformasi sektor pariwisata untuk memitigasi dampak krisis global, khususnya imbas konflik di Timur Tengah yang mengganggu konektivitas global.
Menurut Airlangga, sektor pariwisata kini menghadapi tekanan akibat terganggunya jaringan penerbangan internasional seiring eskalasi konflik perang Iran versus Israel-AS. Ia menilai langkah reformasi diperlukan agar Indonesia mampu memperkuat daya saing destinasi dan ketahanan industri pariwisata di tingkat internasional.
“Indonesia perlu segera melakukan reformasi untuk memitigasi kerugian akibat krisis global, serta membangun fondasi pariwisata dan destinasi yang kompetitif, tangguh, dan berdaya saing tinggi di kancah internasional,” ujar Airlangga di Jakarta, Kamis (19/3).
Kementerian Pariwisata memproyeksikan potensi kehilangan sekitar 5.500 wisatawan mancanegara serta potensi kerugian devisa mencapai Rp 184,8 miliar per hari apabila dampak tersebut tidak segera dimitigasi.
Sejalan dengan itu, laporan InJourney Airports untuk periode akhir Februari hingga 10 Maret 2026 mencatat adanya gangguan pada sembilan rute internasional di Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Ngurah Rai.
Airlangga menegaskan pariwisata tetap menjadi sektor yang penting untuk difokuskan karena kontribusinya terhadap perekonomian nasional. Pada 2025, sektor ini tercatat menyumbang Rp 945,7 triliun atau setara 3,97 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

