BERITA TERKINI
Pemerintah Percepat Transisi Energi untuk Perkuat Ketahanan Pasokan di Tengah Konflik Global

Pemerintah Percepat Transisi Energi untuk Perkuat Ketahanan Pasokan di Tengah Konflik Global

Pemerintah mempercepat sejumlah langkah strategis untuk menjaga ketahanan energi nasional di tengah meningkatnya eskalasi konflik global yang dinilai berpotensi mengganggu rantai pasok energi dunia. Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, terutama yang berdampak pada jalur distribusi minyak dunia, mendorong penguatan kebijakan transisi energi serta upaya menjaga stabilitas pasokan energi di dalam negeri.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai percepatan pemanfaatan energi terbarukan menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil impor yang rentan terhadap gejolak global.

“Percepat transisi energi dengan memanfaatkan sumber energi terbarukan dari air, angin, dan surya,” kata Bhima.

Ia juga menyoroti pentingnya percepatan elektrifikasi, khususnya pada transportasi publik berbasis kendaraan listrik (EV), untuk menekan ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM). Selain itu, Bhima menilai pengurangan ketergantungan pembangkit listrik pada energi fosil diperlukan guna meredam dampak fluktuasi harga minyak global terhadap perekonomian nasional.

Di sisi fiskal, Bhima menekankan perlunya penguatan bantalan fiskal untuk menjaga kesehatan keuangan badan usaha milik negara (BUMN) energi. Ia menyebut revisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) perlu dipertimbangkan untuk mengantisipasi lonjakan beban subsidi energi apabila harga minyak dunia terus meningkat.

“Realokasi anggaran ke subsidi energi mendesak dilakukan. Diperkirakan butuh alokasi tambahan hingga Rp340 triliun untuk jaga agar defisit APBN tidak melebar. Sebaiknya realokasi jangan menambah utang baru,” ujarnya.

Sementara itu, pemerintah bersama pelaku industri energi nasional juga memastikan operasional sektor minyak dan gas bumi (migas) domestik tetap berjalan optimal. PT Pertamina Hulu Energi (PHE) selaku Subholding Upstream Pertamina menyatakan kegiatan usaha hulu migas tetap berlangsung maksimal untuk menjaga pasokan energi nasional.

Corporate Secretary Subholding Upstream Pertamina Hermansyah Y Nasroen mengatakan langkah kesiapan telah dilakukan guna memastikan produksi dan distribusi energi tetap terjaga.

“Kami memastikan kegiatan operasi hulu migas tetap berjalan secara optimal selama periode Ramadan dan Idulfitri. Berbagai langkah kesiapan telah dilakukan agar produksi dan distribusi energi nasional tetap terjaga,” kata Hermansyah.

Saat ini, PHE mengelola lebih dari 80% aktivitas hulu migas di dalam negeri, termasuk pemboran sumur pengembangan, pekerjaan workover, serta eksplorasi di sejumlah wilayah prospektif di Indonesia.

“Kami optimis kontribusi dari Subholding Upstream Pertamina pada pasokan energi nasional selama Ramadan dan Idulfitri 2026 dapat terjaga dengan baik,” ujar Hermansyah.